Kremlin Tuduh Pembentukan Zona Militer Schengen NATO Picu Ketegangan di Eropa

Yati Maulana | Sabtu, 25/11/2023 09:01 WIB


Kremlin Tuduh Pembentukan Zona Militer Schengen NATO Picu Ketegangan di Eropa Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov. Foto: anadolu agency

MOSKOW - Kremlin mengatakan pada hari Jumat bahwa keinginan NATO untuk memiliki analogi militer dengan Zona Schengen di Eropa untuk memungkinkan angkatan bersenjata aliansi tersebut bergerak bebas untuk melawan Rusia telah meningkatkan ketegangan dan menimbulkan kekhawatiran.

Kepala komando logistik NATO (JSEC), Letnan Jenderal Alexander Sollfrank, mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada hari Kamis bahwa dia ingin melihat zona seperti itu.

Dia mengatakan dia khawatir bahwa terlalu banyak birokrasi di seluruh Eropa akan menghambat pergerakan pasukan, sebuah masalah yang menurutnya dapat menyebabkan penundaan besar jika konflik dengan Rusia meletus.

NATO secara aktif mendukung Ukraina dalam perangnya melawan Rusia dan Kyiv berharap suatu hari nanti dapat bergabung dengan aliansi tersebut. Namun NATO sendiri tidak berperang dengan Rusia, situasi yang menurut Presiden AS Joe Biden dan para pemimpin Barat lainnya ingin mereka hindari mengingat luasnya persenjataan nuklir Moskow.

Baca juga :
Pertamina Gelar Pasar Murah di Cianjur, Paket Sembako Rp211.000 Jadi Rp30.000

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Moskow akan merespons jika usulan `militer Schengen` menjadi kenyataan.

Baca juga :
Kajati Jabar dan Kajari Subang Tinjau Progres Pembangunan Pelabuhan Patimban

"Aliansi ini selalu menganggap negara kami sebagai apa yang disebut musuh nosional. Sekarang mereka secara terbuka menganggap negara kami sebagai musuh yang nyata. (Pernyataan) ini tidak lebih dari sekadar memicu ketegangan di Eropa yang mempunyai konsekuensi," kata Peskov kepada wartawan.

Dia mengatakan pembicaraan mengenai pembangunan `Schengen militer` sekali lagi menunjukkan bahwa Eropa tidak mau mendengarkan kekhawatiran Moskow dan siap meningkatkan keamanannya sendiri dengan mengorbankan Rusia.

Baca juga :
Ketua DPR Harap RUU PPRT Dapat Akhiri Kekerasan-Diskriminasi terhadap PRT

"NATO-lah yang terus-menerus memindahkan infrastruktur militernya ke arah perbatasan kami. Kami tidak bergerak menuju infrastruktur NATO. NATO bergerak ke arah kami. Dan ini pasti menimbulkan kekhawatiran dan mengarah pada tindakan pembalasan untuk menjamin keamanan kami sendiri," kata dia. Peskov.

Sejak berakhirnya Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet, NATO telah memperluas wilayahnya sekitar 1.000 kilometer (600 mil) ke arah timur, mencakup negara-negara bekas Pakta Warsawa termasuk Polandia dan negara-negara Baltik serta melipatgandakan panjang sayap timur aliansi tersebut menjadi beberapa negara. totalnya 4.000 kilometer.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Kremlin Rusia Tuduh NATO Ketegangan Eropa