Efek Perang Rusia-Ukraina, Reksadana Berbasis Sektor Energi Patut Dipertimbangkan Investor

Tri Umardini | Selasa, 17/05/2022 21:01 WIB


Efek Perang Rusia-Ukraina, Reksadana Berbasis Sektor Energi Patut Dipertimbangkan Investor Efek Perang Rusia-Ukraina, Reksadana Berbasis Sektor Energi Patut Dipertimbangkan Investor. (FOTO: SHUTTERSTOCK)

JAKARTA - Sektor energi, terutama batu bara memiliki potensi menarik seiring dengan perkembangan harga komoditas menyusul efek perang Rusia-Ukraina.

Reksadana berbasis energi juga patut dicermati oleh smart investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasi.

Dikutip dari bareksa.com, harga batu bara, yang menjadi sumber energi untuk pembangkit listrik, masih bertahan di level cukup tinggi, yaitu di kisaran US$385 per ton, per 11 Mei 2022.

Tingginya harga batu bara karena pasokan energi terbatas akibat efek perang Rusia-Ukraina.

Baca juga :
Pertamina Gelar Pasar Murah di Cianjur, Paket Sembako Rp211.000 Jadi Rp30.000

Kemudian, seperti dilansir dari berbagai sumber, kebutuhan listrik untuk pendingin di India semakin meningkat, akibat adanya gelombang panas yang dialami negara tersebut.

Baca juga :
Kajati Jabar dan Kajari Subang Tinjau Progres Pembangunan Pelabuhan Patimban

Krisis listrik terjadi di India menyusul stok batu bara kian menipis, sehingga harga semakin naik.

Dampak dari peningkatan harga komoditas energi ini, saham-saham terkait energi dan batu bara di Bursa Efek Indonesia juga ikut menguat. Bahkan, sejak awal tahun, sektor energi menjadi satu penopang terbesar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Baca juga :
Ketua DPR Harap RUU PPRT Dapat Akhiri Kekerasan-Diskriminasi terhadap PRT

Berkaitan dengan harga dan kinerja sektor saham energi, sejumlah reksadana saham berbasis energi juga menguat dan mengalahkan kinerja IHSG sepanjang tahun ini (Year to Date/YTD).

Prospek Sektor Energi

Indonesia sebagai salah satu produsen batu bara berpotensi mendapat permintaan tambahan ekspor batu bara ke India.

Saat ini, India termasuk negara tujuan ekspor Indonesia terbesar kedua setelah China. Pada 2021, total ekspor batu bara Indonesia ke india mencapai 65 juta ton.

Ekspor komoditas energi seperti batu bara diprediksi dapat mendorong surplus tipis neraca perdagangan Indonesia pada bulan Mei 2022, meskipun ada larangan ekspor produk kelapa sawit dan turunannya.

Tim Analis Bareksa melihat tingginya harga komoditas energi akan berlangsung lebih lama mengingat tidak adanya jalan keluar dalam waktu dekat dalam konflik Ukraina-Rusia.

Tim Analis Bareksa juga melihat bahwa sektor energi akan masih memiliki kinerja yang cukup baik hingga akhir tahun atau saat memasuki musim dingin, yang biasanya terjadi lonjakan permintaan musiman dan akan mendongkrak kinerja perusahaan energi tahun ini.

Apa yang harus dilakukan investor?

Dengan mempertimbangkan sejumlah faktor di atas, investor dapat melakukan strategi diversifikasi investasi reksadana seperti berikut.

Investor dengan profil risiko agresif dapat pertimbangkan untuk akumulasi reksadana saham berbasis sektor energi secara bertahap, jika IHSG mengalami penurunan. Serta porsi yang cukup pada reksadana pendapatan tetap dan pasar uang.

Sementara itu, investor profil risiko moderat dapat terus melakukan akumulasi secara bertahap di reksadana pendapatan tetap serta diversifikasi dengan porsi yang cukup pada reksadana pasar uang dan porsi paling rendah di reksadana saham.

Lalu untuk investor konservatif dapat melakukan investasi dengan alokasi yang lebih besar di reksadana pasar uang dan porsi yang lebih rendah di reksadana pendapatan tetap.

Perlu diingat kembali, investasi mengandung risiko, sehingga investor juga perlu membekali diri mengenai peluang keuntungan maupun risiko yang ada di pasar keuangan. (*)

 

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Rusia Ukraina reksadana sektor energi investor investasi