Ari Kuncoro: Pertumbuhan Ekonomi Hingga 4,6 Persen pada 2022

Akhyar Zein | Kamis, 03/02/2022 13:26 WIB


Kemunculan Covid-19 varian Omicron memang meningkatkan ketidakpastian, tetapi sejauh ini penyebarannya lebih terkendali dibandingkan varian Delta sehingga diperkirakan tidak akan berdampak signifikan terhadap perekonomian. Ekonom yang juga Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro (Foto: dok.UI)

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar antara 4,1 sampai 4,6 persen year on year pada 2022, demikian proyeksi Ekonom yang juga Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro yang disampaikan dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Badan Anggaran DPR yang dipantau di Jakarta, Kamis seperti dilansir Antara.

"Pertumbuhan 4,1 sampai 4,6 persen itu masih sangat terbuka di 2022. Intinya, kita tidak usah terlalu cepat dulu karena faktor inflasi masih ada di belakang kita dan inflasi akan menurunkan daya beli masyarakat," kata Ari.

Kemunculan Covid-19 varian Omicron memang meningkatkan ketidakpastian, tetapi sejauh ini penyebarannya lebih terkendali dibandingkan varian Delta sehingga diperkirakan tidak akan berdampak signifikan terhadap perekonomian.

"Pengendalian pandemi Covid-19 tetap penting karena sekarang Covid-19 yang terkendali berdampak positif terhadap ekonomi, jadi bukan lagi trade off," kata Ari.

Baca juga :
Baleg DPR Akan Panggil Sejumlah Pihak Bahas Putusan MK Soal Kerugian Negara

Ia pun mendukung upaya pemerintah yang selama ini berusaha mengendalikan Covid-19 dengan tetap memungkinkan aktivitas ekonomi tetap berjalan melalui pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang berjenjang.

Baca juga :
Mendes Yandri Dorong Kerjasama Pengentasan Daerah Tertinggal dengan China

Dengan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2021 yang sebesar 3,51 persen year on year, pertumbuhan ekonomi dipandang mulai normal atau kembali kepada level sebelum pandemi.

Pada saat yang sama, menurut Ari, inflasi perlu tetap dikendalikan agar tidak melonjak saat kebijakan pengelolaan anggaran dikembalikan, misalnya defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dibatasi tidak lebih dari tiga persen dari produk domestik bruto (PDB).

Baca juga :
Klok Sebut Persib Sempat Kewalahan saat Hadapi Bali United

"Kita bisa mempelajari dari itu bahwa ternyata mengendalikan inflasi itu menjadi penting, ini juga terkait dg mengendalikan kesehatan. Jadi, ketika ada kondisi terminal nanti, defisit anggaran kembali ke tiga persen dari PDB segala macam, itu situasinya masih aman kalau kita lihat dengan pola pertumbuhan yang ada sekarang," imbuh Ari.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Pertumbuhan Ekonomi inflasi defisit anggaran