Harga Telur Ayam Anjlok, Ini Penjelasan Kementan!

Asrul | Selasa, 02/11/2021 07:32 WIB


Selain itu, pola konsumsi juga bersifat musiman terutama di daerah-daerah sentra produksi dan menyesuaikan hari besar keagamaan nasional (HBKN) serta kegiatan hajatan masyarakat berkaitan dengan penanggalan Jawa. Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo pada saat memberikan keterangan pers di halaman Parkir depan Auditorium Gedung F, Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan

Katakini.com - Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mengatakan, anjloknya harga telur ayam ras peternak karena daya serap telur kurang akibat adanya pandemi COVID-19.

"Karena COVID-19, orang tidak keluar rumah, restoran tidak buka, hotel tidak ada yang jalan dengan baik, toko juga tidak buka karena work from home (WFH), sehingga telur terjadi pelimpahan," kata Syahrul di Jakarta, Senin (1/11).

Menurut Syahrul, harga telur ayam ras dipengaruhi volume supply di kandang dan daya serap pelaku pasar. Sementara, volume supply di kandang sangat tergantung dari struktur umur induk dan sebaran produksi puncak tidak merata setiap bulan.

Selain itu, pola konsumsi juga bersifat musiman terutama di daerah-daerah sentra produksi dan menyesuaikan hari besar keagamaan nasional (HBKN) serta kegiatan hajatan masyarakat berkaitan dengan penanggalan Jawa.

Baca juga :
Pertamina Gelar Pasar Murah di Cianjur, Paket Sembako Rp211.000 Jadi Rp30.000

"Produksi telur yang tinggi di daerah sentra mempengaruhi peternak dan pelaku pasar mencari potensi pasar di daerah yang memiliki tren harga stabil dan lebih tinggi," ujarnya.

Baca juga :
Kajati Jabar dan Kajari Subang Tinjau Progres Pembangunan Pelabuhan Patimban

Akibat mekanisme pasar dan distribusi telur antardaerah, harga telur ayam ras fluktuatif atau berubah-ubah. Terlebih, adanya kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) selama pandemi COVID-19 pengaruhi konsumsi telur ayam ras mengalami penurunan.

Potensi produksi telur ayam ras pada Oktober sebanyak 426.241 ton dan kebutuhannya 377.744 ton. Jumlah ini berpotensi membuat surplus sebanyak 48.497 ton. Pada 2021 sendiri produksi telur ayam diperkirakan mencapai 5,52 juta ton dengan tingkat konsumsi sebesar 5,48 juta ton.

Baca juga :
Ketua DPR Harap RUU PPRT Dapat Akhiri Kekerasan-Diskriminasi terhadap PRT

Karena itulah Kementan menggelar aksi peduli dengan menyerap 1 juta telur dari peternak rakyat. Hal ini dilakukan sebagai upaya pemerintah membantu penyerapan telur di tingkat peternak. 

"Maka, kami pemerintah turun tangan untuk berupaya mengatasi harga telur dengan melakukan penyerapan 1 juta telur. Agar mengembalikan stabilitas harga," jelas Syahrul.

Telur yang dibeli oleh Kementan dari Provinsi Lampung, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan harga Rp 19.000 tersebut, diperuntukkan untuk konsumsi pegawai Kementan, yayasan panti asuhan dan yatim piatu.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Penyerapan Telur Harga Telur Peternak Syahrul Yasin Limpo