Penjualan Piano Tradisional Inggris Meningkat di Masa Pandemi

Akhyar Zein | Sabtu, 20/03/2021 06:02 WIB


Lonjakan jumlah orang yang memainkan tuts-tuts yang terbuat dari gading itu pada masa pandemi virus corona telah menyebabkan naiknya penjualan piano. Seorang pegawai tengah memperagakan pembuatan piano tradisional di Cavendish Piano. (Foto: Facebook/Cavendish Piano)

Katakini.com - Perusahaan pembuat piano tradisional terakhir di Inggris mendapati ada kenaikan penjualan produk mereka pada saat banyak orang terpaksa tinggal di rumah semasa pandemi virus corona.

Para pegawai di Cavendish Pianos di Yorkshire kini berharap tradisi pembuatan piano selama 200 tahun itu akan mampu bertahan untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari seluruh hobi yang dapat kembali atau mulai dilakukan saat lockdown atau penutupan wilayah, bermain piano adalah pilihan yang sangat tepat bagi mereka yang harus tinggal di rumah.

Lonjakan jumlah orang yang memainkan tuts-tuts yang terbuat dari gading itu padamasa pandemi virus corona telah menyebabkan naiknya penjualan piano.

Baca juga :
Pertamina Gelar Pasar Murah di Cianjur, Paket Sembako Rp211.000 Jadi Rp30.000

Permintaan akan piano turun ke tingkat yang begitu rendahnya sebelum masa pandemi, membuat Cavendish Pianos di Yorkshire menjadi pabrik piano tradisional terakhir di Inggris. Sebelumnya terdapat lebih dari 350 pabrik piano di Inggris.

Baca juga :
Kajati Jabar dan Kajari Subang Tinjau Progres Pembangunan Pelabuhan Patimban

Direktur pengelola Cavendish Pianos, Adam Cox, mengatakan pentingnya mempertahankan keahlian membuat piano.

"Ada banyak pekerjaan yang dilakukan untuk membuat sebuah piano di mana Anda tidak dapat melakukannya hanya dengan mengukur, Anda harus melakukannya dengan perasaan, dengan sentuhan. Dan itu adalah keahliandalam membuat piano atau benar-benar seni pembuatan piano. Tradisi selama 200 tahun dan pengetahuan selama 200 tahun. Tragis sekali jika keahlian ini hilang selamanya," komentarnya.

Baca juga :
Ketua DPR Harap RUU PPRT Dapat Akhiri Kekerasan-Diskriminasi terhadap PRT

Pembuatan piano itu dilakukan di bekas lumbung yang telah direnovasi. Di sanalah sebuah tim kecil pekerja berupaya untuk terus menghidupkan keahlian membuat piano.

Setiap piano dibuat secara manual, dipasangi 230 senar khusus untuk menghasilkan nada Inggris yang unik dan membutuhkan waktu lima bulan untuk menyelesaikannya.

"Saya berada di sini kurang dari setahun dan saya kira ini adalah piano ketiga yang senarnya saya pasang, walaupun saya telah ikut ambil bagian dalam lima atau enam tahap produksi yang berbeda. Benar-benar menakjubkan melihat pembuatannya dari awal hingga selesai," kata Felix Dombay-Walker, pekerja magang di Cavendish Pianos.

Setelah selesai dibuat dan dipasangi senar secara manual, piano itu dihubungkan ke sebuah alat yang disebut “the basher” atau pemukul. Alat itu akan mengetuk tuts secara bersamaan, selama lebih dari 5.000 kali.

Jamie Cullum, penyanyi jazz pop terkenal di dunia sekaligus salah seorang pianis terkenal di Inggris, bertemu dengan tim pembuat piano di Cavendish Pianos dan menggambarkan mereka sebagai “seniman”.

"Anda menyatu dengan rasa musik di sebuah instrumen yang terbuat dari kayu, logam dan lainnya. Ini adalah instrumen mekanis buatan manusia yang indah," jelasnya.

Berkat gaya hidup yang berbeda selama pandemi, tampaknya keahlian pembuatan piano tradisional Inggris yang sudah tua itu, akan mampu bertahan.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
piano tradisional pandemi Jamie Cullum