Korea Selatan Ajak Jepang Selesaikan Masalah Lewat dialog

Akhyar Zein | Senin, 01/03/2021 17:42 WIB


Hubungan diplomatik kedua negara berada pada titik terendah setelah pengadilan Korea memerintahkan perusahaan Jepang memberi kompensasi kepada korban kerja paksa Mantan Perdana Mentri Jepang Shinzo Abi dan Presiden Korea Moon Jae In (foto CNBCindonesia.com)

Katakini.com - Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada Senin mengajak Jepang untuk menyelesaikan semua masalah bilateral melalui dialog.

Dalam pidatonya pada Hari Pergerakan Kemerdekaan, Moon mengatakan negaranya tidak akan berhenti mendesak untuk kerja sama yang lebih erat dengan Jepang.

"Pemerintah kami siap untuk duduk bersama pemerintah Jepang kapan saja dan berdialog," kata Moon seperti dikutip Kantor Berita Yonhap.

Dia menambahkan bahwa langkah itu juga akan membantu kemitraan trilateral dengan Amerika Serikat.

Baca juga :
Pertamina Gelar Pasar Murah di Cianjur, Paket Sembako Rp211.000 Jadi Rp30.000

Moon mengatakan dia yakin bahwa negara-negara tetangga dapat menyelesaikan masalah yang tertunda terkait dengan sejarah bersama dengan bijaksana jika mereka berbagi ide dengan menempatkan diri pada posisi masing-masing.

Baca juga :
Kajati Jabar dan Kajari Subang Tinjau Progres Pembangunan Pelabuhan Patimban

Hubungan diplomatik antara kedua negara berada pada titik terendah selama setahun terakhir setelah pengadilan Korea Selatan memerintahkan perusahaan Jepang untuk memberi kompensasi kepada korban kerja paksa kolonial Jepang.

Keputusan itu ditolak oleh Tokyo, yang menyatakan bahwa semua klaim terkait dengan 35 tahun kekuasaannya atas Semenanjung Korea telah diselesaikan berdasarkan perjanjian bilateral 1965.

Baca juga :
Ketua DPR Harap RUU PPRT Dapat Akhiri Kekerasan-Diskriminasi terhadap PRT

Menurut Jepang, masalah "wanita penghibur" juga sudah diselesaikan melalui perjanjian 2015 dengan, di mana Tokyo membayar USD9,1 juta untuk pendirian yayasan yang didedikasikan untuk mendukung korban perbudakan seks di masa perang.

Para korban, yang secara halus diberi label "wanita penghibur", mengajukan kasus tersebut pada 2013 dan sidang pertama digelar pada April 2020.

Namun, Korea Selatan membubarkan yayasan itu tahun lalu dengan alasan bahwa kesepakatan yang ditandatangani selama masa jabatan Presiden Park Geun-hye "sangat cacat".

Tindakan tersebut membuat marah Tokyo, yang memandang perjanjian itu sebagai keputusan final dan tidak dapat diubah.

"Kerja sama bilateral akan membantu kedua negara, stabilisasi dan kemakmuran bersama di Asia Timur Laut dan juga akan membantu kerja sama trilateral antara Korea Selatan, AS dan Jepang," katanya.

Dia juga meyakinkan Tokyo bahwa negaranya akan bekerja sama untuk menyukseskan Olimpiade Tokyo, yang rencananya akan berlangsung akhir tahun ini.

 

- Hubungan Korea Selatan-Korea Utara

Selama pidatonya, Moon juga berjanji untuk melanjutkan upaya denuklirisasi Korea dan perdamaian abadi.

Dia menegaskan kembali prinsip tiga poin dalam hubungan antar-Korea: tidak ada toleransi untuk perang, jaminan keamanan timbal balik dan kesejahteraan bersama.

Presiden Korea Selatan berharap Pyongyang akan memulai kerja sama dengan negara lain dengan partisipasi dalam "Prakarsa Kerja Sama Asia Timur Laut" yang dimaksudkan untuk mempromosikan kemitraan melawan krisis kesehatan masyarakat seperti pandemi Covid-19.

"Ini akan berfungsi sebagai kekuatan untuk membuka pintu bagi kemakmuran dan perdamaian bersama di Semenanjung Korea dan Asia Timur," kata Moon.(Anadolu Agency

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
bilateral kolonial Jepang denuklirisasi