Resesi Sudah di Depan Mata, Ini Tanda-tandanya

| Senin, 19/10/2020 08:22 WIB


Potensi resesi secara teknis kian dekat, terlebih beberapa indikator juga menunjukkan kondisi perekonomian nasional masih dalam kondisi tertekan akibat pandemi COVID-19. Ilustrasi Aktivitas Ekonomi

Katakini.com - Resesi ekonomi di Indonesia diproyeksi bakal terjadi. Hal ini terlihat dari beberapa indikasi.

Salah satu indikasi, kata Chief Economist Danareksa Research Institute Moekti Prasetiani Soejachmoen, adalah kontraksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2020. Hanya saja, skala kontraksinya tidak sebesar kuartal sebelumnya.

"Sepertinya pada kuartal III ini minus kembali. Tetapi tidak sebesar kuartal II lalu yang pertumbuhan tumbuh negatif 5,32 persen," kata Moekti dalam pernyataan di Jakarta, Minggu (18/10/2020).

Menurut Moekti, potensi resesi secara teknis kian dekat, terlebih beberapa indikator juga menunjukkan kondisi perekonomian nasional masih dalam kondisi tertekan akibat pandemi COVID-19. Seperti turunnya Purchasing Managers Index (PMI) pada September yang hampir empat poin, dari 50,8 pada Agustus, menjadi 47,2.

Baca juga :
Sambut Hari Anak, KCIC Ajak Puluhan Anak Naik Whoosh dan Peduli Lingkungan

"Padahal, PMI kita sempat ke level 50 yang artinya sudah aman," ujar Moekti.

Baca juga :
KPK Terbitkan 2 Sprindik Baru dalam Kasus Korupsi Bea Cukai

Indikator lainnya yaitu semakin marak perusahaan melakukan tindakan pemotongan hubungan kerja (PHK) terhadap pegawainya, hingga turunnya minat investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia selama pandemi berlangsung.

"Hal ini karena situasi ekonomi global dan Indonesia masih penuh ketidakpastian. Kan ekspor dan impor juga masih mengalami pelemahan, belum tumbuh normal," katanya.

Baca juga :
Sambut Hari Anak, Citilink Membuat Instalasi Interaktif di Terminal IC Bandara Soetta

Moekti mengungkapkan, bantalan ekonomi nasional hingga akhir tahun ialah dari pengeluaran pemerintah. Oleh karenanya dia mendorong peningkatan belanja pemerintah untuk percepatan pemulihan ekonomi.

"Satu-satunya komponen yang bisa menggenjot PDB adalah belanja pemerintah. Itu sebabnya negara harus melakukan stimulus fiskal dengan melakukan pengeluaran lebih besar dari biasanya," ujar Moekti.

 

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Resesi Ekonomi Covid 19