
Ilustrasi aksi unjuk rasa di Prancis. ANTARA/Anadolu/py.
JAKARTA - Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray mengumumkan sejumlah langkah untuk mengurangi tekanan siswa sekolah menengah, termasuk membatalkan pemangkasan tenaga pendidik dan merenovasi sekolah.
Geffray mengatakan pemerintah membatalkan rencana pemangkasan 836 posisi di pendidikan menengah negeri dan membuka 500 posisi tambahan bagi guru sekolah menengah, menurut stasiun televisi BFMTV.
Langkah tersebut diumumkan setelah kembali muncul aksi protes selama akhir pekan terkait kondisi pendidikan di Prancis.
Geffray mengakui siswa menghadapi tekanan akademik akibat platform penerimaan mahasiswa Parcoursup, pilihan peminatan, serta jumlah siswa yang terlalu banyak dalam satu kelas.
"Kita harus secara nyata mengurangi tekanan di sekolah ini; kita harus mengurangi jumlah siswa per kelas," kata Geffray dalam konferensi pers.
Mulai tahun ajaran 2027, pemerintah akan membatasi jumlah siswa kelas dua sekolah menengah menjadi maksimal 28 siswa di 50 persen sekolah yang melayani komunitas kurang beruntung.
Kebijakan tersebut akan diperluas ke 50 persen sekolah lainnya yang berada di wilayah lebih sejahtera mulai tahun ajaran 2028.
Geffray juga mengatakan Perdana Menteri Sebastien Lecornu memutuskan menyediakan tambahan dana 4 miliar euro melalui pinjaman berbunga subsidi untuk pemerintah daerah dan departemen.
Dana tersebut akan digunakan untuk membantu membiayai renovasi sekolah menengah pertama dan atas.
Menurut Geffray, pendanaan itu memungkinkan pemerintah daerah memperoleh pembiayaan dengan persyaratan lebih menguntungkan dan mempercepat pelaksanaan pekerjaan renovasi sekolah.
Sumber: Anadolu