Kebakaran Sumatera dan Kalimantan Disorot di Tengah Buruknya Udara Asia Tenggara

Agus Mughni Muttaqin | Rabu, 14/10/2026 14:44 WIB


Ilustrasi pemadaman Karhutla (Foto: ANTARA/Ali Nur Ichsan)

JAKARTA - Kualitas udara di sejumlah kota besar Asia Tenggara memburuk pada 13 Oktober 2026. Polusi partikel halus PM2.5 dan kabut asap lintas batas menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan orang lanjut usia.

Dilansir dari laman IQAir, sejumlah wilayah yang terdampak meliputi Jakarta, Palembang, Pekanbaru, dan Pontianak di Indonesia; Kuala Lumpur, Klang, Kuching, Kuala Selangor, dan Petaling Jaya di Malaysia; serta Singapura dan Hanoi di Vietnam.

Pada malam hari waktu setempat, beberapa pusat kota mencatat indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) pada kisaran 100–200. Rentang tersebut menunjukkan kondisi yang tidak sehat pada sebagian skala AQI yang digunakan, meskipun tingkat risiko dan kategorinya dapat berbeda menurut sistem pengukuran masing-masing.

Kondisi ini membuat warga perlu lebih memperhatikan informasi kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan. Namun, tingkat polusi tidak selalu sama di setiap kota dan dapat berubah sepanjang hari, sehingga pemantauan data terkini tetap diperlukan.

Baca juga :
Peringatan dari Nabi untuk Orang yang Meremehkan Shalat

Partikel halus PM2.5 menjadi pencemar dominan yang disorot dalam laporan kualitas udara tersebut. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan ketika paparan berlangsung pada tingkat tinggi.

Baca juga :
Kalah dari Atletico Madrid, Tielemans Akui Timnya Kesulitan

Kabut asap lintas batas turut memperburuk kondisi di sejumlah wilayah Asia Tenggara. Asap dari kebakaran hutan dan lahan dapat terbawa angin melintasi perbatasan negara, sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan di wilayah tempat kebakaran terjadi.

Dampak polusi udara perlu diwaspadai oleh kelompok rentan, termasuk anak-anak, orang lanjut usia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau gangguan jantung. Paparan partikel halus dapat memicu iritasi, memperburuk gejala pernapasan, dan meningkatkan risiko masalah kesehatan lainnya.

Baca juga :
Ketika Gaji Besar Tetapi Hati Tidak Pernah Tenang

Berdasarkan data yang diberikan, memburuknya kualitas udara regional berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan sejak awal September 2026. Kebakaran tersebut disebut terjadi di tengah kondisi kering berkepanjangan yang meningkatkan risiko munculnya titik api.

Lahan gambut menjadi salah satu perhatian karena kebakaran di kawasan ini dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar dan sulit dipadamkan ketika api menjalar ke lapisan bawah permukaan. Asap yang dihasilkan dapat bertahan dan menyebar mengikuti kondisi angin.

Kondisi kering yang dikaitkan dengan El Nino juga disebut meningkatkan kerawanan kebakaran. Angin yang membawa asap menuju Singapura dan Malaysia kemudian berpotensi memperluas dampak polusi hingga ke negara-negara tetangga.

Meski demikian, tingkat kontribusi setiap sumber terhadap polusi di masing-masing kota perlu dipastikan melalui data pemantauan dan analisis atmosfer. Informasi yang tersedia belum merinci konsentrasi PM2.5 maupun kontribusi kebakaran dari setiap wilayah.

Kapan kualitas udara Asia Tenggara akan membaik? Belum ada tanggal pasti kapan kualitas udara di kawasan ini akan kembali membaik. Informasi yang diberikan menyebutkan bahwa Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura belum menetapkan waktu pemulihan karena kondisi kering di wilayah selatan ASEAN masih berpotensi mempertahankan risiko kebakaran dan kabut asap dalam beberapa hari berikutnya.

Perubahan kondisi diperkirakan bergantung pada datangnya monsun timur laut, yang diprakirakan mulai pada akhir Oktober hingga November. Curah hujan yang lebih berkelanjutan berpotensi membantu mengurangi risiko kebakaran dan kabut asap.

Namun, datangnya musim hujan tidak otomatis menjamin seluruh wilayah terbebas dari polusi. Perbaikan kualitas udara juga bergantung pada intensitas hujan, arah angin, sumber emisi, serta kondisi kebakaran yang masih berlangsung.

Karena itu, warga di wilayah terdampak sebaiknya tidak hanya mengandalkan perkiraan pergantian musim. Informasi AQI terkini dan peringatan dari otoritas setempat tetap menjadi acuan untuk menentukan aktivitas luar ruangan.

Saat kualitas udara memburuk, warga disarankan mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan, terutama ketika indeks polusi berada pada kategori tidak sehat. Anak-anak dan kelompok rentan perlu mendapat perhatian khusus karena lebih berisiko mengalami dampak paparan.

Pintu dan jendela dapat ditutup ketika asap berada di luar ruangan. Jika menggunakan sistem ventilasi atau pendingin udara, atur ke mode resirkulasi apabila tersedia dan sesuai dengan petunjuk perangkat agar udara luar yang tercemar tidak terus masuk ke dalam ruangan.

Penggunaan alat pembersih udara dengan filter partikulat berefisiensi tinggi atau HEPA dapat membantu mengurangi partikel halus di dalam ruangan. Pilih perangkat yang sesuai dengan ukuran ruangan dan hindari aktivitas yang menambah polusi dalam rumah, seperti merokok atau membakar bahan tertentu.

Jika harus beraktivitas di luar ruangan ketika polusi tinggi, masker respirator KN95 atau FFP2 yang terpasang rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel. Masker tersebut tidak sepenuhnya melindungi dari seluruh jenis polutan gas, sehingga membatasi waktu di luar ruangan tetap penting.

Warga juga dapat memantau perkembangan kualitas udara melalui aplikasi atau peta pemantauan AQI yang menyediakan data terkini. Pemeriksaan secara berkala membantu menentukan kapan aktivitas luar ruangan sebaiknya dikurangi atau ditunda. (*)

Sumber: IQAir

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Asap Karhutla Kebakaran Hutan dan Lahan Karhutla Kalimantan Asia Tenggara