Waka MPR Ajak Generasi Muda Wujudkan Indonesia Emas Tanpa Narkoba

Agus Mughni Muttaqin | Rabu, 23/09/2026 15:22 WIB


Ibas menegaskan bahwa pemberantasan narkoba harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) saat menerima audiensi Kader Inti Pemuda Anti Narkoba (KIPAN) Indonesia, GRANAT, para duta anti narkoba, serta sejumlah elemen masyarakat (Foto: Humas MPR)

JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mengajak generasi muda menjadi bagian penting dari gerakan mewujudkan Indonesia Emas tanpa bandar narkoba.

“Jadilah generasi yang bermakna dan berdampak. Berpikir besar, bertindak nyata, dan membumi dalam manfaat," ujar Ibas dalam siaran pers, Rabu (23/9).

Hal tersebut disampaikannya saat menerima audiensi Kader Inti Pemuda Anti Narkoba (KIPAN) Indonesia, GRANAT, para duta anti narkoba, serta sejumlah elemen masyarakat dalam Audiensi Kebangsaan bertema “Indonesia Emas Tanpa Bandar Narkoba: Generasi Muda Keren, Jadi Solusi dan Penggerak Kemajuan Bangsa”, di Rumah Kebangsaan MPR RI, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Menurut Ibas, tema Indonesia Emas tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi. Indonesia Emas juga membutuhkan generasi muda yang sehat, berkarakter, produktif, kreatif, dan mampu menjadi solusi bagi berbagai persoalan bangsa.

Baca juga :
KPK Geledah Kantor BPN Mojokerto Usut Kasus Summarecon

Ibas menegaskan bahwa pemberantasan narkoba harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

Baca juga :
KPK Usut Peran Ipda Yayat di Kasus Suap Proyek Bekasi

Generasi muda harus diperkuat melalui pencegahan dan edukasi. Namun pada saat yang sama, jaringan pemasok, pengedar, dan bandar narkoba harus menjadi sasaran utama pemberantasan.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan sendiri. Mari kita berkolaborasi, mari kita bersinergi,” ujar Ibas.

Baca juga :
Komisi V Dorong Pembentukan Pansus Imbas Kasus Kecelakaan Kapal

Menurutnya, perang melawan narkoba tidak boleh berhenti pada penangkapan pengguna atau kurir. Penegakan hukum perlu diarahkan untuk mengungkap jaringan yang lebih besar, termasuk aktor yang mengendalikan perdagangan narkotika dan keuntungan ekonomi di baliknya.

“Putus jalurnya, bongkar jaringannya, kejar bandarnya,” ujar Ibas.

Ibas juga mendorong penelusuran aliran dana yang berasal dari perdagangan narkoba sehingga pemberantasan tidak hanya menyasar barang, tetapi juga keuntungan dan aset yang dihasilkan dari kejahatan tersebut.

Ibas mengingatkan bahwa perdagangan narkoba memiliki dimensi ekonomi yang sangat besar. Dalam pemaparannya kepada para pegiat anti narkoba, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat itu menyampaikan, “Sektor ekonomi bayangan itu hari ini berputar kurang lebih hampir 100 kuadriliun rupiah.”

Ia kemudian menyebut sejumlah aktivitas ilegal yang perlu dicermati, di antaranya judi online, perdagangan narkoba, perdagangan manusia, dan penebangan liar.

Angka tersebut memiliki cakupan dan metodologi yang berbeda. Karena itu, Ibas menilai pemberantasan narkoba perlu melihat persoalan bukan hanya dari sisi kesehatan dan keamanan, tetapi juga dari sisi ekonomi ilegal dan aliran keuangan kejahatan.

Ibas juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap berbagai titik rawan masuknya narkoba ke Indonesia.

Dengan wilayah Indonesia yang luas dan berbentuk kepulauan, pengawasan terhadap perbatasan darat, perbatasan laut, pelabuhan, pintu masuk internasional, serta jalur-jalur ilegal menjadi bagian penting dalam memutus mata rantai penyelundupan.

Anggota Komisi XII DPR RI tersebut mendorong penguatan sinergi antara BNN, Polri, TNI, Bea Cukai, Imigrasi, pemerintah daerah, dan masyarakat.

“Jangan sampai wilayah perbatasan dan kawasan yang sulit diawasi justru dimanfaatkan jaringan narkotika,” ujarnya.

Menurutnya, teknologi, pertukaran informasi, deteksi dini, dan pengawasan terpadu perlu terus dikembangkan untuk mempersempit ruang gerak jaringan narkotika.

“Kita tidak boleh hanya menunggu narkoba beredar. Kita harus mencegahnya sejak dari pintu masuk.”

Ibas menegaskan bahwa pemberantasan narkoba bukan hanya tugas negara dan aparat penegak hukum.

Orang tua dan keluarga juga memiliki posisi penting dalam membangun karakter dan ketahanan anak menghadapi tekanan lingkungan.

“Komitmen itu harus dirumuskan tidak hanya sebatas komitmen dari pemimpin, tapi juga sampai dengan level-level regulator kita, aparatur kita, organisasi pendukung, termasuk kepala-kepala daerah dan di dalamnya adalah orang tua dan keluarga-keluarga yang ada di Indonesia,” kata Ibas.

Menurut Ibas, keluarga harus menjadi ruang pertama bagi anak untuk mendapatkan edukasi, perhatian, rasa aman, kepercayaan diri, dan tempat untuk bercerita.

Ia juga menekankan pentingnya membangun self-love, self-confidence, dan self-esteem, sehingga anak muda tidak mencari penerimaan, keberanian, atau ketenangan melalui narkoba.

“Indonesia ini mencintai mereka tidak hanya dengan sekadar memberikan pukulan kepada warganya, tetapi juga dengan mengasihi dan mencintai, to love their soul,” ujar Ibas.

Ibas mendorong agar pendidikan anti narkoba dimulai sejak usia dini, mulai dari SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi.

Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada nilai akademik dan kurikulum, tetapi juga harus membentuk karakter, keterampilan, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan menghadapi tekanan sosial.

Para duta anti narkoba juga diminta menggunakan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan Gen Z dan Alpha.

“Jadilah kalian duta-duta literasi anti narkoba yang terus menggunakan cara-cara terkini, pendekatan melalui AI, pendekatan melalui bahasa-bahasa generasi kalian,” katanya.

Pesan anti narkoba, lanjut Edhie Baskoro, harus hadir di ruang yang dekat dengan kehidupan anak muda: sekolah, kampus, komunitas, olahraga, seni, kreativitas, hingga media sosial.

Menurut Ibas, menciptakan Indonesia Emas tanpa narkoba bukan hanya dengan mengatakan “tidak” terhadap narkoba, tetapi juga dengan membuka lebih banyak jalan bagi anak muda untuk mengatakan “ya” terhadap masa depan.

Ia mendorong generasi muda mengembangkan potensi melalui olahraga, seni, kompetisi, kewirausahaan, social entrepreneurship, ekonomi kreatif, teknologi, e-sports, hingga kegiatan lingkungan.

“Lebih baik ikut sport, lebih baik ikut pentas, lebih baik ikut kompetisi yang kira-kira bisa membawa penguatan keterampilan kita,” ujar Ibas.

Ia menilai generasi muda harus didorong menjadi solusi dan penggerak kemajuan bangsa, sesuai tema Audiensi Kebangsaan tersebut.

“Indonesia membutuhkan generasi yang bisa memutar perekonomian. Kalau tinggal di daerah, jadilah social entrepreneur. Kembangkan potensi ekonomi rakyat agar menjadi lebih bermanfaat dan lebih bernilai,” katanya.

Ibas juga menyoroti pentingnya penguatan regulasi dan implementasi kebijakan terkait narkoba. Menurutnya, legislasi tidak boleh berhenti sebagai tulisan di atas kertas.

“Legislasi itu bukan hanya ukuran kertas dan tulisan-tulisan yang menggugah pikiran kita. Tapi selanjutnya bagaimana kita mengimplementasi, bagaimana kita membuat agar aturan tersebut menjadi impactful, agar aturan tersebut bisa kita rasakan kehadirannya,” kata dia.

Karena itu, kebijakan pemberantasan narkoba harus terus dievaluasi dan diperkuat agar mampu menjawab perkembangan modus peredaran narkotika.

Ibas juga menilai dukungan terhadap aparat penegak hukum, pengawasan perbatasan, penguatan kelembagaan, pencegahan, pembinaan, dan rehabilitasi harus berjalan secara berkelanjutan.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Info MPR Edhie Baskoro Yudhoyono Generasi Muda Bandar Narkoba