
Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah. Foto: dpr
JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah mengingatkan agar riset olahraga tidak hanya berfokus pada peningkatan peak performance atlet, tetapi juga harus bisa menjawab kebutuhan nyata para atlet termasuk para atlet penyandang disabilitas.
Hal tersebut disampaikan Ledia Hanifa menanggapi rencana Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat pengembangan sport science.
Menurut Ledia, kualitas alat bantu masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi atlet disabilitas Indonesia dalam bersaing di level internasional. Karena itu, riset di bidang olahraga perlu diperluas hingga mencakup pengembangan teknologi dan rekayasa alat bantu yang lebih ringan, ergonomis, serta sesuai dengan kebutuhan atlet.
“Kalau kita bicara sport science, jangan hanya fokus pada bagaimana meningkatkan performa atlet tapi juga bagaimana ada pengembangan alat bantu olahraga yang lebih berkualitas. Bagi penyandang disabilitas kita harus memastikan alat bantu yang mereka gunakan benar-benar mendukung mereka untuk berprestasi. Maka di sinilah peran riset menjadi sangat penting,” ujar Ledia dalam keterangan resmi dikutip Selasa (21/7).
Sekretaris Fraksi PKS DPR RI itu mengungkapkan, pengalamannya saat mencermati penyelenggaraan Asian Para Games menunjukkan masih adanya kesenjangan kualitas alat bantu yang digunakan atlet Indonesia dibandingkan atlet dari negara lain.
Ia mencontohkan pada cabang para-bulu tangkis, atlet dari sejumlah negara telah menggunakan prostetik berbahan ringan seperti titanium yang membuat pergerakan lebih lincah dan nyaman. Sementara sebagian atlet Indonesia masih menggunakan prostetik yang relatif lebih berat sehingga dapat memengaruhi performa saat bertanding.
Kondisi serupa, lanjut Ledia, juga terlihat pada cabang tenis meja kursi roda. Menurutnya, kursi roda olahraga yang digunakan atlet Indonesia masih memiliki bobot cukup berat sehingga membatasi kelincahan saat melakukan manuver di lapangan.
“Padahal alat bantu seperti prostetik maupun kursi roda bukan sekadar perlengkapan. Itu adalah bagian dari performa atlet. Semakin ringan, semakin ergonomis, dan semakin sesuai dengan kebutuhan atlet, maka peluang mereka untuk menampilkan kemampuan terbaik juga akan semakin besar,” katanya.
Ledia juga menyoroti alat bantu yang digunakan atlet sepak bola amputasi. Ia membandingkan tongkat penyangga atlet Indonesia dengan milik atlet Jepang yang telah dirancang secara khusus (customized) sesuai karakteristik masing-masing atlet sehingga lebih ringan, nyaman, dan mendukung mobilitas selama pertandingan.
Karena itu, ia menilai pengembangan sport science harus mencakup riset mengenai material, desain, ergonomi, hingga standardisasi alat bantu olahraga bagi atlet penyandang disabilitas.
“Riset tidak cukup berhenti pada latihan, fisiologi, atau biomekanika atlet. Kita juga perlu mendorong inovasi alat bantu olahraga yang sesuai dengan karakter atlet Indonesia sehingga mereka bisa bersaing dengan atlet dunia menggunakan teknologi yang setara,” tegasnya.
Ledia berharap, BRIN dapat menyelaraskan agenda pengembangan sport science dengan kebutuhan para atlet disabilitas. Menurutnya, sinergi antara riset, inovasi teknologi, dan kebutuhan atlet akan memperkuat ekosistem olahraga nasional sekaligus mendorong lahirnya industri alat olahraga dalam negeri yang berdaya saing.
“Olahraga modern bukan lagi hanya soal latihan dan pertandingan. Prestasi atlet saat ini ditentukan oleh dukungan ilmu pengetahuan, teknologi, rekayasa material, hingga inovasi industri olahraga. Karena itu, hasil riset di bidang sport science semestinya tidak hanya meningkatkan prestasi atlet Indonesia, tetapi juga mampu melahirkan produk-produk alat olahraga dalam negeri yang berkualitas, memiliki nilai ekonomi, dan dapat dimanfaatkan secara luas oleh atlet disabilitas Indonesia,” pungkasnya.