
Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas saat membuka Forum Diskusi Kebangsaan bertajuk Gotong Royong dan Merah Putih Bond: Penguatan Ekonomi Nasional, Stabilitas Politik, dan Ketahanan Negara, Rabu (24/6/2026), di Kompleks MPR RI, Senayan, Jakarta (Foto: Humas MPR)
JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) meniai penguatan instrumen investasi nasional melalui skema Merah Putih Bond atau Patriot Bond dapat memperbesar mobilisasi modal dalam negeri sekaligus mendukung pembiayaan pembangunan yang berkelanjutan.
Menurut Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI ini, semangat gotong royong ekonomi harus diwujudkan melalui instrumen yang kredibel, produktif, dan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pembangunan nasional.
Hal tersebut disampaikan Ibas saat membuka Forum Diskusi Kebangsaan bertajuk “Gotong Royong dan Merah Putih Bond: Penguatan Ekonomi Nasional, Stabilitas Politik, dan Ketahanan Negara”, Rabu (24/6/2026), di Kompleks MPR RI, Senayan, Jakarta. Forum tersebut dihadiri akademisi, pakar ekonomi dan keuangan, pelaku industri jasa keuangan, praktisi investasi, serta perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Dalam sambutannya, Ibas mengatakan bahwa kondisi global saat ini menuntut Indonesia untuk semakin adaptif dalam menjaga daya saing investasi. Menurutnya, faktor eksternal seperti konflik geopolitik, kebijakan suku bunga internasional, hingga percepatan transformasi digital dapat memengaruhi pergerakan modal dan arah investasi dunia.
"Geopolitik memengaruhi arus investasi. Suku bunga global juga menentukan masuk atau keluarnya modal. Sementara transformasi digital mengubah struktur industri secara fundamental. Karena itu Indonesia harus terus memperkuat daya saing ekonominya," ujar Ibas.
Lulusan S2 Nanyang Technological University (NTU) Singapura tersebut menilai Indonesia masih menjadi salah satu destinasi investasi yang menjanjikan di kawasan. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia memiliki peluang besar untuk menarik investasi yang mencari stabilitas dan prospek pertumbuhan jangka panjang.
"Indonesia masih menjadi negara yang sangat menjanjikan bagi investor. Ketika banyak kawasan dunia menghadapi konflik dan ketidakpastian, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi tujuan investasi yang semakin diperhitungkan," katanya.
Namun demikian, Wakil Ketua Dewan Penasihat KADIN Indonesia itu mengingatkan bahwa peluang tersebut harus diiringi dengan reformasi struktural yang mampu memperkuat iklim usaha nasional. Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas fiskal dan moneter sekaligus memastikan masyarakat merasakan manfaat nyata dari pertumbuhan ekonomi.
Menurut Ibas, pembangunan ekonomi Indonesia ke depan harus bertumpu pada investasi yang produktif dan berkualitas. Ia mendorong agar investasi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu, tetapi mampu mendorong pemerataan pembangunan di berbagai daerah.
"Investasi harus diarahkan pada sektor-sektor produktif seperti manufaktur, energi, dan ekonomi digital. Pertumbuhannya harus merata agar manfaat pembangunan dapat dirasakan di seluruh Indonesia," tegas Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VII tersebut.
Lebih lanjut, lulusan Program Doktor Manajemen dan Bisnis IPB University itu menegaskan pentingnya membangun arsitektur keuangan nasional yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan. Menurutnya, kebutuhan pembangunan nasional tidak dapat sepenuhnya bertumpu pada APBN sehingga diperlukan berbagai instrumen pembiayaan yang mampu memperluas sumber pendanaan pembangunan.
"Kita membutuhkan sistem keuangan yang kuat sebagai penjaga pembangunan. Kebutuhan pembangunan, pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat terus meningkat sehingga diperlukan sumber pembiayaan yang semakin beragam," ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Ibas menilai gagasan Patriot Bond maupun Merah Putih Bond dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat mobilisasi modal domestik. Menurutnya, instrumen tersebut bukan semata-mata ditujukan untuk menarik dana kembali ke dalam negeri, tetapi juga untuk mengarahkan modal agar tetap produktif dan memberikan manfaat bagi pembangunan nasional.
"Yang terpenting adalah bagaimana instrumen ini dapat memperkuat mobilisasi modal dalam negeri, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta mendukung perputaran ekonomi yang memberikan manfaat bagi rakyat," katanya.
Ia juga mengakui bahwa berbagai gagasan baru selalu memunculkan perdebatan dan diskusi di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, aspek legalitas, transparansi, tata kelola, serta perlindungan investor harus menjadi perhatian utama dalam penyusunan kebijakan.
Dalam kesempatan tersebut, Ibas menjelaskan bahwa Merah Putih Bond maupun Patriot Bond pada prinsipnya merupakan instrumen pembiayaan yang dirancang untuk memperkuat sumber pendanaan pembangunan nasional. Gagasan tersebut diharapkan mampu mendorong partisipasi investasi domestik, memperluas alternatif pembiayaan pembangunan, serta mengurangi ketergantungan terhadap sumber pendanaan eksternal.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa implementasinya harus dibangun di atas prinsip transparansi, akuntabilitas, kepastian hukum, dan tata kelola yang baik agar mampu memperoleh kepercayaan publik serta investor.
Menutup forum, Ibas mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus membangun optimisme terhadap masa depan ekonomi Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara maju apabila mampu memperkuat kolaborasi, menjaga stabilitas, serta menghadirkan kebijakan yang kredibel dan berorientasi pada kepentingan rakyat.
"Mari kita sama-sama optimis sekaligus kritis. Indonesia memiliki peluang besar untuk terus tumbuh dan menjadi negara maju. Yang diperlukan adalah kepercayaan, kolaborasi, dan komitmen bersama untuk memastikan setiap kebijakan benar-benar memberikan manfaat bagi bangsa dan negara," pungkas Ibas.