
Asap mengepul dari lokasi serangan udara Israel yang menargetkan wilayah di kota Nabatieh, Lebanon selatan, pada 11 April 2026 (Foto: Abbas Fakih/AFP)
JAKARTA - Militer Israel secara sepihak mengeluarkan perintah evakuasi paksa bagi penduduk di 29 desa di wilayah Lebanon selatan sebelum meluncurkan gelombang serangan udara baru pada Minggu (14/6).
Langkah agresif ini tetap dilakukan sekutu Amerika Serikat tersebut meskipun perjanjian gencatan senjata untuk menghentikan perang dengan kelompok pejuang Hezbollah saat ini masih berlaku.
Juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Kolonel Avichay Adraee, merilis dua peringatan berturut-turut. Peringatan pertama menyasar 13 desa, disusul peringatan kedua untuk 16 desa lainnya, yang secara khusus menargetkan komunitas warga di sebelah utara Sungai Zahrani.
Di sisi lain, pihak militer Israel mengklaim bahwa dua unit drone yang dicurigai kuat diluncurkan oleh Hezbollah dari Lebanon telah menghantam wilayah Israel utara pada hari Minggu, namun dipastikan tidak memakan korban jiwa.
"Dua dampak dari target udara yang mencurigakan di wilayah Israel telah diidentifikasi di dekat perbatasan Israel-Lebanon. Tidak ada laporan mengenai korban luka," sebut pernyataan resmi militer Israel.
Pasca-insiden jatuhnya drone tersebut, dua menteri ekstremis sayap kanan Israel langsung menyerukan serangan balasan besar-besaran ke pinggiran selatan Beirut, sebuah wilayah basis kuat Hezbollah yang dikenal sebagai Dahiyeh.
"Penembakan ke pemukiman warga di wilayah utara adalah ujian bagi Doktrin Dahiyeh yang telah dinyatakan oleh perdana menteri. Saya mendesak beliau untuk menerapkannya secara tegas dan kokoh, serta meruntuhkan gedung-gedung di Dahiyeh," tulis Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, melalui akun resminya di platform X.
Senada dengan Smotrich, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, juga menyuarakan ancaman serupa di media sosial. "Untuk setiap satu drone harus dibalas rudal; untuk setiap pelanggaran harus dibalas api; untuk setiap UAV, Dahiyeh harus dibuat bergetar," cuit Ben Gvir di X.
Sejumlah pejabat tinggi Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sebelumnya memang telah berulang kali memperingatkan bahwa mereka tidak akan segan-segan menggempur wilayah Dahiyeh jika kelompok bentukan Iran itu nekat menargetkan komunitas di Israel utara. Sikap keras ini diklaim Israel telah mengantongi lampu hijau dan dukungan penuh dari Washington.
Sabtu, 13/06/2026