
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (Foto: AP)
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa operasi militer AS untuk mengevakuasi kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz telah ditangguhkan untuk sementara waktu.
Pengumuman tersebut disampaikan Trump melalui platform Truth Social miliknya pada Selasa (5/5).
Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan permintaan Pakistan serta negara-negara lain, serta mempertimbangkan adanya "kemajuan besar menuju Kesepakatan Lengkap dan Final" dengan perwakilan Iran.
"Kami telah sepakat bahwa, sementara blokade tetap berlaku sepenuhnya, Proyek Kebebasan (Project Freedom — pergerakan kapal melalui Selat Hormuz) akan dihentikan untuk waktu singkat guna melihat apakah kesepakatan dapat difinalisasi dan ditandatangani," tulisnya.
Melansir Aljazeera, Rabu (6/5), pengumuman Trump ini muncul di tengah eskalasi ketegangan di kawasan Teluk. Militer AS melaporkan telah menghancurkan beberapa kapal Iran di Selat Hormuz, serta melumpuhkan rudal balistik dan drone.
Sementara itu, Uni Emirat Arab menyatakan pertahanan udaranya kembali menghalau serangan rudal dan drone dari Iran untuk hari kedua berturut-turut, di saat sebuah kapal komersial lainnya di Selat Hormuz melaporkan terkena "proyektil tak dikenal".
Di pihak lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merilis peta baru Selat Hormuz yang menunjukkan perluasan wilayah kendali Iran. Mereka memperingatkan kapal-kapal pada hari Selasa untuk tetap berada di koridor yang telah ditetapkan atau akan menghadapi "tanggapan tegas".
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan di Washington bahwa operasi ofensif terhadap Iran, yang diberi sandi "Operasi Epic Fury", telah selesai.
"Tidak akan ada baku tembak kecuali kami ditembak lebih dulu," ujar Rubio. Namun, ia menegaskan bahwa Iran harus "membayar harga" atas upayanya menguasai Selat Hormuz.
"Selat Hormuz bukan milik Iran. Mereka tidak punya hak untuk menutupnya, meledakkan kapal, atau memasang ranjau," tegas Rubio.
"Kita tidak boleh menerima situasi di mana koordinasi dengan Iran atau membayar upeti kepada mereka menjadi sebuah kenormalan untuk melintasi Selat Hormuz. Hal itu menciptakan preseden berbahaya yang bisa ditiru di berbagai tempat lain di dunia."
Jalur maritim krusial ini yang dilalui sekitar seperlima pasokan energi dunia—telah diblokade secara efektif oleh Iran sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap negara tersebut pada 28 Februari.
Menyusul gencatan senjata pada bulan April, AS memberlakukan blokade tandingannya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran guna menekan Teheran agar menyetujui persyaratan perdamaian yang dimediasi Pakistan, termasuk pembukaan kembali selat dan penghentian seluruh pengayaan nuklir.
Penutupan selat ini telah mengganggu perdagangan global, menyebabkan harga minyak dan pupuk melonjak, serta memicu kekhawatiran akan resesi global dan krisis pangan darurat.