Sejarah dan Makna Kue Apem dalam Budaya Jawa

M. Habib Saifullah | Rabu, 11/02/2026 20:05 WIB


Istilah apem dipercaya berasal dari kata Arab afwan yang berarti maaf atau ampunan. Pelafalannya kemudian menyesuaikan dengan bahasa masyarakat setempat menjadi apem. Kue Apem. FOTO: HO/IST

JAKARTA - Menjelang datangnya bulan Ramadan, masyarakat di berbagai daerah Jawa memiliki kebiasaan membagikan kue apem kepada tetangga dan kerabat. Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum puasa dimulai dan dikenal sebagai bagian dari ritual megengan.

Megengan merupakan kegiatan berkumpul keluarga atau warga untuk berdoa bersama sekaligus mempererat silaturahmi. Dalam kegiatan tersebut, kue apem hampir selalu hadir sebagai hidangan utama.

Tradisi kue apem telah dikenal sejak masa awal penyebaran Islam di tanah Jawa. Sejumlah catatan budaya menyebut kebiasaan ini berkembang ketika para ulama menggunakan pendekatan tradisi lokal dalam menyampaikan ajaran agama kepada masyarakat.

Dihimpun dari berbagai sumber, istilah “apem” dipercaya berasal dari kata Arab afwan yang berarti maaf atau ampunan. Pelafalannya kemudian menyesuaikan dengan bahasa masyarakat setempat menjadi “apem”. Karena itu, pembagian kue apem dikaitkan dengan permohonan maaf sebelum memasuki bulan Ramadan.

Baca juga :
Pertamina Gelar Pasar Murah di Cianjur, Paket Sembako Rp211.000 Jadi Rp30.000

Melalui simbol makanan, masyarakat diajak untuk membersihkan hubungan sosial sekaligus mempersiapkan diri secara spiritual. Warga biasanya saling berkunjung, bertukar makanan, dan menyampaikan permohonan maaf.

Baca juga :
Kajati Jabar dan Kajari Subang Tinjau Progres Pembangunan Pelabuhan Patimban

Kue apem dibuat dari bahan sederhana seperti tepung beras, santan, gula, dan ragi. Meski sederhana, keberadaannya memiliki makna simbolik. Dalam pandangan budaya Jawa, makanan sering dijadikan sarana penyampaian pesan moral.

Apem dimaknai sebagai pengingat agar seseorang memperbaiki hubungan dengan sesama dan memohon ampun kepada Tuhan sebelum menjalankan ibadah puasa. Hal tersebut sejalan dengan ajaran Islam bahwa Ramadan merupakan bulan pengampunan.

Baca juga :
Ketua DPR Harap RUU PPRT Dapat Akhiri Kekerasan-Diskriminasi terhadap PRT

Selain memiliki makna religius, tradisi ini juga memperkuat hubungan sosial. Proses pembuatan apem biasanya dilakukan bersama anggota keluarga sehingga menjadi media pendidikan nilai bagi generasi muda tentang berbagi dan saling menghormati.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Tradisi Sambut Ramadan Kue Apem Tradisi Megengan