Capai Rekor Tertinggi, Suhu Laut Thailand Bukan Memanas Tapi Mendidih

Yati Maulana | Jum'at, 24/05/2024 15:05 WIB


Capai Rekor Tertinggi, Suhu Laut Thailand Bukan Memanas Tapi Mendidih Karang yang memutih terlihat di terumbu karang di Koh Mak, provinsi Trat, Thailand, 8 Mei 2024. REUTERS

TRAT - Kehidupan akuatik mulai dari terumbu karang hingga ikan di pantai timur teluk Thailand menderita karena suhu permukaan laut mencapai rekor tertinggi bulan ini di tengah gelombang panas regional, sehingga mengkhawatirkan para ilmuwan dan masyarakat lokal.

Karang-karang yang tadinya hidup dan berwarna-warni, berada sekitar lima meter (16 kaki) di bawah air, telah berubah menjadi putih dalam fenomena yang dikenal sebagai pemutihan karang, sebuah tanda bahwa kesehatan mereka memburuk karena suhu air yang lebih tinggi, kata para ilmuwan.

Suhu permukaan laut di Teluk Timur Thailand mencapai 32,73°C (90,91°F) awal bulan ini, sementara suhu di bawah air sedikit lebih hangat, dengan komputer selam menunjukkan sekitar 33°C, data menunjukkan.

“Saya tidak dapat menemukan satu pun karang yang sehat,” kata ahli biologi kelautan Lalita Putchim dari Departemen Sumber Daya Kelautan dan Pesisir (DMCR) setelah menyelesaikan penyelaman di pantai teluk.
“Hampir semua spesies mengalami pemutihan, hanya sedikit yang tidak terkena dampaknya.”

Baca juga :
Kemenko PM Bangun Sistem Pelindungan PMI Berbasis Desa di Lampung Timur

Kepulauan Trat memiliki lebih dari 66 pulau, dengan terumbu karang seluas lebih dari 28,4 kilometer persegi (2.841 hektar), di mana Lalita menemukan bahwa 30% terumbu karang mengalami pemutihan dan 5% sudah mati.

Baca juga :
Mendes Yandri Tinjau Pameran Potensi Desa di Puncak HUT ke-68 Lombok Barat

Jika suhu air tidak dingin, lebih banyak karang yang mati, kata Lalita.
“Ini adalah pemanasan global, bukan hanya pemanasan global,” katanya.

Meningkatnya suhu juga berdampak pada kehidupan laut lainnya dan mata pencaharian nelayan setempat termasuk Sommay Singsura.

Baca juga :
Berbagai Dampak Buruk Sering Begadang untuk Kesehatan Otak Anda

Dalam beberapa tahun terakhir, hasil tangkapan makanan laut hariannya telah berkurang. Sebelumnya dia mampu menghasilkan hingga 10.000 baht ($275) sehari, namun sekarang terkadang dia kembali dengan tangan kosong.

“Dulu ada nangka, ikan tenggiri, dan masih banyak lainnya… Tapi sekarang keadaannya tidak bagus. Cuacanya tidak seperti dulu lagi,” keluh Sommay.

Terumbu karang merupakan sumber makanan dan habitat bagi kehidupan laut, serta menjadi penghalang alami yang mencegah erosi pantai, kata para ilmuwan.

Jika pemutihan menyebabkan berkurangnya kehidupan laut, nelayan harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk mendapatkan hasil tangkapan mereka, yang dapat menyebabkan kenaikan harga jual, kata Sarawut Siriwong, dekan fakultas Teknologi Kelautan di Universitas Burapha.

“Meskipun (pemutihan karang) ini akan mempengaruhi ketahanan pangan, pada saat yang sama, stabilitas pendapatan (masyarakat) juga dipertaruhkan,” katanya.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Suhu Panas Thailand Menddih