• News

Perang, Cara Gampang Rusak Lingkungan

Pamudji | Senin, 16/10/2023 09:12 WIB

Perang, Cara Gampang Rusak Lingkungan Ilustrasi

JAKARTA - Bukan hanya sendi-sendi kemanusian, pertahanan dan keamanan, perang juga menghancurkan keseimbangan alam. Melambungnya volume emisi gas rumah kaca akibat perang menjadi sisi gelap operasi perusakan lingkungan.

Tarikan nafas panjang, yang menegaskan keputusasaan masyarakat dunia akan bisa-tidaknya perang Rusia - Ukraina berakhir, tampaknya akan semakin panjang. Kini, di depan mata mereka muncul kecemasan baru yang datang dari konflik berkepanjangan Israel versus Palestina. Secara logika dan hitung-hitungan, konflk ini bisa memicu Perang Dunia Ketiga.

Kecemasan itu, secara eksplisit, telah dilontarkan oleh Ketua Prakarsa Persahabatan Indonesia-Palestina (PPIP) Din Syamsuddin.

"Standar ganda Amerika Serikat yang mendukung Israel dengan memberi bantuan persenjataan dan menghadirkan kapal induk dan sikap tegas Presiden Vladimir Putin mendukung Palestina dengan Ibu Kota Jerussalem berpotensi mendorong perang dunia baru," ujar Din dalam keterangannya, Minggu (15/10/2023).

Pada hari yang sama, Wakil Presiden RI Ma`ruf Amin mengutuk keras aksi peperangan, yang dipertontonkan negara tertentu kepada masyarakat global. Dalam bahasa Ma`ruf Amin, perang tak hanya merongrong kedamaian dan ketenteraman dunia, tetapi juga merusak lingkungan.

"Kita lihat masih ada perang Ukraina-Rusia. Dampaknya luar biasa, globaliter terganggu, krisis energi," kata Wapres saat menghadiri acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Ke-52 KH Abdul Wahab Chasbullah di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, di Jakarta, Minggu (15/10/2023).

Menurut Wakil Presiden,  sudah menjadi kewajiban umat beragama untuk menjaga lingkungan ("hifdzul al-bi`ah"). Sebab, jika lingkungan rusak, maka akan terjadi krisis global yang dipicu kerusakan di darat dan laut.

Jika ada pertanyaan, di titik mana perang sangat ampuh merusak lingkungan, maka jawabannya sangat gampang dipaparkan.Titik perusakan itu ada pada aktivitas peningkatan produksi emisi, baik berupa karbon, metana, atau sumber lain, selama perang berlangsung.

Belum lama ini, Reuters melansir laporan mencengangkan tentang pemburukan krisis iklim akibat perang Rusia-Ukraina. Situasi menakutkan ini, seperti disinggung sebelumnya, dipicu oleh peningkatan emisi karbon selama perang.

Sejumlah peneliti yang dipimpin oleh pakar Belanda Lennard de Klerk mengamati berbagai kontributor emisi, mulai dari bahan bakar yang digunakan oleh kendaraan, kebakaran hutan, hingga perubahan penggunaan energi di Eropa dan rekonstruksi bangunan dan infrastruktur di masa depan.

"Kami tidak menyangka bahwa emisi perang akan begitu signifikan. Dan bukan hanya peperangan itu sendiri yang berkontribusi terhadap emisi, tetapi juga rekonstruksi masa depan dari infrastruktur yang hancur," kata de Klerk, seperti dikutip Reuters.

Berdasarkan laporan de Klerk dan kawan-kawan setengah dari peningkatan emisi yang terjadi sejak perang dimulai pada Februari 2022 berasal dari rekonstruksi bangunan, jalan, dan sejumlah pabrik yang rusak akibat perang.

Selanjutnya, sekitar 19 persen dari emisi tersebut berasal dari berbagai aksi militer, seperti pembakaran bahan bakar kendaraan, produksi dan penembakan senjata, serta pembangunan sejumlah benteng beton.

"Jika Anda melihat efek buruk terhadap lingkungan dari apa yang terjadi di Ukraina, perang tersebut merupakan bencana dalam hal emisi karbon," kata James Appathurai, Wakil Asisten Sekretaris Jenderal NATO.

Sumber lain menyebutkan, jika digabungkan emisi yang dihasilkan dalam perang menyumbang 5,5% emisi gas rumah kaca global (GRK). Disampaikan dalam narasi tegas bahwa perang meninggalkan jejak karbon yang sangat merugikan kelangsungan hidup.

Jika begitu kondisinya, maka argumentasi apalagi yang harus dilontarkan, untuk meyakinkan semua kalangan, bahwa perang adalah cara tergampang merusak lingkungan.