Peserta Pelatihan Green Growth Jurnalism dI Yogyakarta, 11-13 September 2023
YOGYAKARTA - Saya merasa berdosa selama ini menayangkan berita lingkungan di jam hantu.
Kalimat penuh rasa bersalah itu terlontar dari seorang wartawan, yang mengikuti pelatihan Green Growth Jurnalism. Pelatihan ini diinisiasi oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) dan BBC Media Action. Sebanyak 20 wartawan terpilih dari Jawa, Bali, NTT, dan NTB mengikuti pelatihan yang digelar di Kota Yogyakarta, DIY, pada 11-13 September 2023 tersebut.
"Seringkali, berita lingkungan saya tayangkan di jam-jam landai. Kalah sama berita populer, yang muncul di jam-jam ramai," kata sang wartawan, masih dengan nada bersalah.
Di kalangan awak media, jam sepi pembaca sering dianalogikan sebagai jam hantu.
Cerita wartawan dari Semarang tersebut adalah satu dari sederet pengalaman peliputan dan penayangan berita lingkungan oleh awak media. Banyak cerita lainnya yang mencuat selama pelatihan. Wartawan dari Purwokerto, misalnya, memaparkan pengalaman meliput penambangan liar di wilayah setempat. Ada pula wartawan dari Sukabumi, yang menyoroti irisan antara pariwisata dengan persoalan lingkungan.
Selain pendalaman isu lingkungan, selama pelatihan wartawan juga mendapat materi tentang teknis penguasaan data. Ini penting, karena data adalah nyawa jurnalisme lingkungan. Materi lain menyangkut pemahaman tentang karakteristik pembaca, pendengar, dan penonton berita, khususnya berita lingkungan.
"Media sering terjebak antara berita populer dan berita yang dibutuhkan," kata Mantan Ketua Umum AMSI , Wenseslaus Manggut saat menyampaikan materi pelatihan.
Menurut Kak Wens, sapaan akrab Wenseslaus Manggut, berita yang sampai kepada publik terbagi dua. Yakni, berita populer dan berita yang dibutuhkan.
"Namun terlepas antara populer dan dibutuhkan, yang pasti berita lingkungan harus memenuhi kaidah kedekatan atau resiproksitas dengan pembaca," ujar Kak Wens.
Sementara itu, Ketua AMSI DIY, Anton Wahyu Prihartono menyinggung kontribusi awak media terhadap penanganan masalah lingkungan. Kontribusi secara langsung ini bisa dilakukan melalui literasi dan edukasi.
Terkait hal itu, Anton menceritakan aksi pemungutan dan pengumpulan sampah plastik oleh seorang praktisi media. Aksi ini mengisyaratkan bahwa peran media menangani masalah lingkungan tidak dibatasi oleh ruang redaksi. Wartawan juga bisa bekerja di luar ruang redaksi untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik.
"Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi," ujar Anton.