Bamsoet usai menerima informal Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, H.E. Mrs. Lyudmila Georgievna Vorobieva, di Kediaman Dinas Ketua MPR RI, Jakarta, Senin (26/9/22Bamsoet saat menerima informal Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, H.E. Mrs. Lyudmila Georgievna Vorobieva, di Kediaman Dinas Ketua MPR RI, Jakarta, Senin (26/9/22) (foto: Humas MPR)
JAKARTA - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menyambut baik keinginan Ketua Dewan Federasi Majelis Federal Rusia H.E Mrs. V.I. Matvienko untuk bertemu dirinya secara resmi selaku pimpinan MPR RI pada Kamis, 6 Oktober 2022 di Gedung MPR RI.
"Pertemuan tersebut sangat penting untuk membahas berbagai isu penting yang sedang terjadi di dunia, termasuk peningkatan hubungan Indonesia dengan Rusia," ujar Bamsoet usai menerima informal Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, H.E. Mrs. Lyudmila Georgievna Vorobieva, di Kediaman Dinas Ketua MPR RI, Jakarta, Senin (26/9/22).
Terkait situasi ketegangan antara Rusia dengan Ukraina, sikap Indonesia tetap mengedepankan politik bebas aktif. Misalnya ditunjukan dengan menjadi salah satu dari 141 negara yang mendukung resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang meminta Rusia menghentikan serangannya ke Ukraina. Hal ini bukan berarti Indonesia memihak kepada Ukraina, melainkan atas dasar kemanusiaan dan menolak perang. Walaupun mendukung resolusi, sikap Indonesia tetap mendorong adanya penegakan HAM di wilayah konflik dan penyelesaian melalui dialog dan diplomasi.
"Dalam pemungutan suara di Majelis Umum PBB tanggal 7 April 2022 mengenai pembekuan Rusia dari keanggotaan Dewan HAM, delegasi Indonesia memutuskan abstain. Pertimbangannya, Majelis Umum PBB perlu bersikap hati-hati dan tidak mencabut hak sah anggotanya sebelum memiliki seluruh fakta yang ada. Majelis Umum PBB tidak boleh menciptakan preseden negatif yang dapat menjatuhkan kredibilitasnya sebagai badan yang terhormat," jelas Bamsoet.
"Berbagai proses menuju perdamaian sebenarnya telah dilakukan. Misalnya, Turki telah berperan lima kali menjadi tuan rumah perundingan pertemuan Rusia - Ukraina. Bahkan Rusia dan Ukraina menandatangani perjanjian terpisah dengan Turki dan PBB untuk membuka jalan bagi Ukraina yang merupakan salah satu lumbung pangan utama dunia, untuk mengekspor 22 juta ton biji-bijian dan barang-barang pertanian lainnya seperti Gandum yang tertahan di pelabuhan Laut Hitam karena serangan Rusia. Kesepakatan itu juga memungkinkan Rusia mengekspor biji-bijian dan pupuk," terang Bamsoet.
"Nilai investasi langsung Rusia di Indonesia pada tahun 2020 tercatat sebesar USD 4,6 juta dengan 202 proyek, yang sebagian besar di sektor industri kimia dan farmasi. Neraca perdagangan kedua negara tahun 2020 mampu mencatat surplus di pihak Indonesia sebesar USD 16 juta, dengan total volume perdagangan sebesar USD 1,93 miliar. Nilai ini terbilang kecil dibanding potensi yang ada. Mengingat Rusia adalah kekuatan ekonomi nomor 12 dunia, sementara Indonesia nomor 16. Karena itu, masih terbuka berbagai peluang untuk meningkatkan neraca perdagangan kedua negara, misalnya dari sektor pertanian seperti palm oil, karet, Rusiakakao, gandum, hingga daging," pungkas Bamsoet.