• News

Dua Mahasiswa UI Raih Penghargaan Duta Bahasa Nasional Terbaik Nomor 1 Tahun 2026

Vaza Diva | Jum'at, 18/09/2026 19:59 WIB

Dua Mahasiswa UI Raih Penghargaan Duta Bahasa Nasional Terbaik Nomor 1 Tahun 2026 Perwakilan dari Provinsi DKI Jakarta untuk Duta Bahasa Nasional tahun 2026, Adventhius Immanuel Karo Karo (kanan) dan Dania Zahra Ayusti (kiri) berfoto dengan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin usai meraih predikat nomor 1 terbaik untuk Duta Bahasa Nasional tahun 2026 (Foto: Vaza/Katakini)

JAKARTA - Dua mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, meraih predikat Terbaik Pertama Duta Bahasa Nasional 2026.

Keduanya merupakan perwakilan Duta Bahasa DKI Jakarta dalam ajang yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Puncak Penganugerahan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2026 berlangsung di Jakarta, pada Jumat (18/9) siang WIB.

Adventhius mengatakan pencapaian tersebut diraih setelah melalui persiapan yang cukup padat. Ia menyebut waktu persiapan yang dimiliki bersama Dania hanya sekitar satu bulan, dengan berbagai tugas yang harus diselesaikan.

"Tentunya sangat bersyukur kepada Tuhan. Karena pengalamannya sangat menantang juga, kita hanya punya waktu sedikit sekali ya, kurang lebih 1 bulan untuk persiapan," kata Adventhius usai acara.

Persiapan tersebut mencakup implementasi krida atau program kebahasaan, pembuatan video kebahasaan, hingga penulisan artikel.

Saat memasuki tahap nasional, keduanya juga harus menjalani berbagai rangkaian penilaian.

Disisi lain pasangan dari Adventhius, yakni Dania mengatakan proses tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak.

"Di nasional ini juga kami banyak dibantu oleh pihak-pihak terkait seperti Ika Dubas, Ika Dubas DKI Jakarta, teman-teman kami dari Ika Dubas DKI, kemudian dari keluarga kami tentunya. Jadi, ada banyak tantangan yang sudah kami lalui," ujar Dania.

Menurut Adventhius, salah satu tahapan tersulit terjadi menjelang babak final. Mereka hanya memiliki waktu sekitar dua pekan untuk mempersiapkan berbagai penampilan.

"Kalau yang paling sulit adalah menuju final ini sebenarnya. Jadi, sebelum menuju final ini kita kurang lebih hanya punya waktu 2 minggu untuk persiapan," ucapnya.

Dalam waktu tersebut, Adventhius dan Dania hanya sempat tiga kali berlatih untuk penampilan bakat.

Sementara itu, rangkaian final berlangsung selama lima hari dan mencakup tutur loka, presentasi krida, tanya jawab final hingga penampilan talenta.

Bagi Dania, tantangan lain terletak pada membangun chemistry dengan Adventhius sebagai pasangan dalam kompetisi.

"Kalau saya pribadi sebenarnya hubungan chemistry antara saya dengan Nuel ya. Karena untuk membangun suatu program yang kuat, kemudian menyelaraskan bakat kami, harus ada kesepakatan, kemudian selaras antara visi dan misi kami," kata Dania.

Keduanya kemudian mencari cara untuk mengatasi perbedaan selama proses persiapan.

Adventhius mengatakan komunikasi dan penggunaan waktu bersama menjadi salah satu cara yang mereka lakukan.

"Walaupun kami pada akhirnya kekurangan waktu, waktu-waktu yang tersisa itu kami gunakan untuk bisa mengerjakan bersama atau sekadar untuk bercerita terlebih dahulu," ujarnya.

Ia juga menyebut sikap saling mentoleransi menjadi bagian penting dalam kerja sama tim.

Dania turut menyampaikan bahwa perbedaan pendapat dalam proses tersebut tidak selalu dapat dihindari.

"Karena memang ada banyak perbedaannya, semua orang tidak bisa sama. Tapi karena kami sama-sama terbuka, jujur, ada masalah apa enggak apa-apa berantem tapi nanti selesai dan ketemu solusinya apa," kata Dania.

Setelah meraih Terbaik nomor satu, keduanya membawa pesan yang sama mengenai penggunaan bahasa.

Adventhius mengatakan bahasa Indonesia merupakan bagian dari identitas bangsa yang perlu ditempatkan sesuai kedudukannya, tanpa mengesampingkan bahasa daerah maupun bahasa asing.

"Bahasa Indonesia itu adalah jati diri bangsa dan juga jati diri serta identitas kita sebagai warga negara Indonesia. Mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia itu adalah suatu keharusan, bukan cuma keniscayaan," kata Adventhius.

Ia juga mengajak generasi muda tetap melestarikan bahasa daerah sekaligus menguasai bahasa asing sesuai prinsip Trigatra Bangun Bahasa, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.

Prinsip tersebut juga menjadi bagian penting dalam peran Duta Bahasa.

Lebih lanjut, Dania menyampaikan pesan serupa kepada masyarakat, organisasi, perusahaan dan para pemangku kepentingan agar tidak ragu menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

"Jangan malu untuk mengutamakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah karena itu adalah dua landasan utama kita untuk berdiri tegak sebelum belajar bahasa asing di kemudian hari," ujar Dania.

Hasil ini membuat mereka berdua berhasil mendapatkan uang tunai sebesar Rp24 Juta untuk pembinaan sebagai Duta Bahasa Nasional tahun 2026.