Louis Vuitton naikkan harga produknya pekan ini menyusul kenaikan harga semua biaya produksi. Foto: Reuters
JAKARTA - Louis Vuitton, merek fesyen terkemuka LVMH, menaikkan harga secara global pekan ini sebagai akibat dari peningkatan biaya produksi dan transportasi. Juru bicara perusahaan barang mewah Prancis tersebut mengatakan kepada Reuters di China.
Louis Vuitton, merek mewah terbesar di dunia, akan menjadi salah satu label besar pertama di industri yang menaikkan harga secara luas tahun ini untuk melindungi marginnya karena biaya melonjak.
Kenaikan harga akan mempengaruhi toko Louis Vuitton di seluruh dunia dan mencakup barang-barang kulit, aksesoris mode, dan parfum, kata juru bicara itu pada hari Selasa. Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang skala kenaikan, selain mengatakan bahwa harganya akan bervariasi tergantung pada produk.
"Penyesuaian harga memperhitungkan perubahan biaya produksi, bahan baku, transportasi serta inflasi," kata label itu dalam sebuah pernyataan yang diberikan kepada Reuters.
Beberapa blogger di media sosial Tiongkok mengatakan harga beberapa model tas tangan seperti Capucines dan Neverfull, yang sekarang dihargai masing-masing 46.500 yuan atau Rp 104 juta dan 12.000 yuan atau Rp 27 juta akan naik 20 persen atau lebih di Tiongkok, tanpa mengutip sumber.
PurseBop, sebuah situs web yang melacak pasar barang mewah, mengutip spekulasi bahwa kenaikan akan berkisar antara sekitar 4 persen pada batas bawah dan rata-rata 15-18 persen di batas atas.
Menyajikan rekor penjualan dan keuntungan 2021 untuk divisi fashion dan barang kulit, yang dipimpin oleh Vuitton dan Dior, bos miliarder LVMH Bernard Arnault mengatakan pada Januari bahwa kelompok itu memiliki cukup ruang gerak untuk menaikkan harga di lingkungan inflasi tetapi harus "masuk akal."
Selama pandemi virus corona, perusahaan barang mewah telah mengambil keuntungan dari melonjaknya permintaan fashion dan aksesoris kelas atas untuk mendorong merek mereka lebih ke kelas atas.
Chanel menaikkan harga beberapa tasnya tiga kali tahun lalu, dengan tas Classic Flap yang populer, saat ini dijual dengan harga $8.200 atau Rp 117 juta, naik hampir 60 persen lebih tinggi dari sebelum pandemi pada 2019.