• News

PBB: Kekerasan Akibatan 15 Juta Mengungsi di Mali, Niger dan Burkina Faso

Akhyar Zein | Jum'at, 28/01/2022 16:34 WIB
 PBB: Kekerasan Akibatan 15 Juta Mengungsi di Mali, Niger dan Burkina Faso Ratusan pengungsi internal berkumpul di dekat kamp Faladie, Kota Bamako, Mali, Afrika Barat pada Senin 6/5/2019. Seratus kepala keluarga bersiap menerima paket pangan dan paket sanitasi yang diantarkan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT). Pendistribusian ingkisan di awal Ramadan ini merupakan hasil kolaborasi kemanusiaan antara ACT dan Kitabisa.com.(foto: act.id)

JAKARTA - Penduduk Niger, Mali dan Burkina Faso saat ini sedang mengalami kekerasan, pengusiran dan pengangguran, demikian dikatakan Kepala badan bantuan PBB Martin Griffiths mengatakan pada Kamis. 

PBB menyebutkan terjadi peningkatan dalam satu tahun bahwa hampir 15 juta penduduk di Mali, Niger dan Burkina Faso harus berjuang bertahan hidup dan 4 juta penduduk di antaranya membutuhkan pertolongan sejak Januari lalu.

Tahun 2022, PBB membutuhkan dana hampir USD2 miliar untuk mengatasi krisis kemanusiaan di Mali, Burkina Faso dan Niger, ucap Griffiths.

Dalam pertemuan dengan para pejabat senior di Sahel Tengah, Griffiths menjelaskan ketidakstabilan politik, cuaca ekstrem, kemiskinan, bahkan Covid 19, membuat jutaan ekonomi penduduk semakin terpuruk.

Dia mengatakan tahun 2015 dan 2022 kekerasan meningkat delapan kali lipat di Sahel Tengah.

Rumah Sakit tidak berfungsi dan lebih dari 5.000 sekolah ditutup yang dapat mengancam masa depan ratusan ribu anak-anak.

PBB juga menyampaikan, akibat musim panceklik, krisis pangan yang melanda 8 juta penduduk di Mali dan Niger akan meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan November 2020.

Sahel Tengah adalah salah satu tempat paling berbahaya di dunia bagi pekerja bantuan.

Sepertiga dari semua penculikan pekerja bantuan di dunia pada tahun 2020 terjadi di Mali, Niger dan Burkina Faso, menurut Griffiths.

Griffiths mengunjungi Nigeria untuk aksi kemanusiaan di wilayah tersebut.

Dia berencana mengunjungi Mali dan Niger dalam beberapa bulan mendatang untuk bertemu dengan mereka yang terkena dampak.