• Nusa Tenggara Timur

Stunting Turun 3,2 %, Gubernur NTT Tetap Belum Puas

Semy Andy Pah | Selasa, 12/10/2021 10:05 WIB
 Stunting Turun 3,2 %, Gubernur NTT Tetap Belum Puas Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat

katakini.com--Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat tetap belum merasa puas atas pencapaian kinerja penurunan stunting sampai 3,2% di Nusa Tenggara Timur.

"Memang betul, terjadi penurunan stunting. Jika penurunannya biasa-biasa saja, artinya kerja kita kurang maksimal karena yang kita bicarakan ini adalah nyawa manusia," kata Viktor Bungtilu Laiskodat pada Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting se-Provinsi NTT, di Labuan Bajo, Senin (11/10/2021).

Menurut Viktor, jika hanya melihat secara statistik memang penurunannya sudah bagus yaitu sampai pada 21 % namun jika melihat jumlah maka cukup fantastis yaitu masih ada 80.909 orang yang masih stunting.

Viktor menyebut bahwa Rakor Percepatan Penurunan Stunting se-Provinsi NTT merupakan salah satu langkah mewujudkan mimpi Presiden Jokowi yaitu Generasi Emas pada 2045.

"Mimpi Presiden Jokowi, negara ini pada 2045 akan menatap masa depan dengan generasi emasnya. Jika cita-citanya seperti itu, maka yang kita lakukan hari ini adalah desain dan perencanaan menuju 2045 membawa bonus demografi menjadi generasi unggul," tegas Viktor.


Ia menilai menyelesaikan stunting di NTT tidak bisa jika hanya dilakukan dengan cara-cara yang biasa saja. Apalagi NTT merupakan salah satu penyumbang stunting terbesar di Indonesia.

"Ini merupakan tantangan kita bersama para bupati dan saya sebagai gubernur untuk menyelesaikan masalah stunting tidak bisa hanya dilakukan dengan cara yang biasa," ujarnya.

Konvergensi kata dia,mengharuskan melakukan langkah-langkah yang terpadu, terarah dan secara bersama-sama serta kerja-kerja lapangan yang harus kuasai.

"Jika kita mampu mendesain untuk mengetahui seluruh kelahiran dengan kerja sama kepala desa, tokoh agama, camat kepala dinas, bupati sampai pada gubernur maka saya yakin 1000 hari pertama kehidupan bayi akan bisa diperhatikan dan stunting bisa diatasi," tandas Viktor.

Karena itu, Viktor menghimbau agar permasalahan stunting diselesaikan dengan kerja sama antara pemangku kepentingan dengan stakeholder masyarakat karena permasalahan stunting merupakan tanggung jawab bersama.

"Saya berterima kasih atas kerja-kerja selama ini akan tetapi kita harus mensinergikan lagi seluruh stakeholder masyarakat agar masalah stunting di NTT dapat segera terselesaikan," ujarnya.

"Saya mengharapkan hal-hal seperti ini dapat kita lanjutkan dengan semangat kita bersama, tanggung jawab kita adalah bagaimana kita menyelamatkan 80.909 anak yang akan menjadi generasi masa depan untuk menopang pertumbuhan NTT ke depannya," sambungnya.

Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Provinsi NTT, Kosmas Lana menyampaikan persentase penurunan stunting di NTT, dibandingkan dengan tahun 2020 pada tahun 2021 mengalami penurunan sebesar 3,2%.

"Pada penilaian kinerja konvergensi stunting tahun 2021 terdapat beberapa pencapaian. Dibandingkan dengan tahun 2020, tahun 2021 penurunan stunting sebesar 3,2%. Pada bulan Agustus 2020 yang lalu stunting NTT berada pada angka 24,2%. Pada Agustus tahun ini stunting kita berada pada angka 21%," kata Kosmas.

Kosmas menyampaikan tujuan pelaksanaan rapat koordinasi ini merupakan evaluasi terhadap kinerja penanganan stunting di NTT terhadap kinerja pelaksanaan aksi konvergensi stunting yang dilaksanakan setiap tahun.

Lewat rakor ini sekaligus diberikan piagam penghargaan beserta sarana yang selama ini dikeluhkan oleh kabupaten/kota untuk menginput data kedalam aplikasi yang sudah ditentukan.

Kegiatan ini kata dia, merupakan komitmen bersama antara provinsi dan kabupaten/kota untuk terus menerus serta bahu membahu melakukan percepatan penurunan stunting sampai dengan akhir periode perencanaan baik di tingkat Provinsi maupun kabupaten masing-masing.

Penghargaan Penilaian Kinerja Aksi Konvergensi Penurunan Stunting diberikan kepada 10 kabupaten terbaik oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat.

Kabupaten yang memperoleh penghargaan yaitu Kabupaten Rote Ndao, Manggarai Timur, Belu, Ngada, Nagekeo, Sikka, Ende, Flores Timur, Sumba Timur dan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Rakor ini juga menghasilkan komitmen bersama dengan para Bupati/Walikota untuk menurunkan stunting sebagai masalah kemanusiaan yang mendasar berkaitan dengan pengakuan, penghargaan, pemenuhan dan perlindungan hak-hak asasi anak secara universal.

Komitmen yang disepakati adalah sebagai berikut: pertama, melaksanakan program konvergensi percepatan penurunan stunting (zero stunting) untuk menciptakan Generasi Muda Unggul NTT 2045-2050 sehingga mendapatkan bonus demografi.

Kedua, bersepakat untuk masing-masing kabupaten/kota menurunkan stunting sampai 10% pada tahun depan 2022.

Ketiga, mendesain sistem pendeteksian gejala stunting dan pendataan stunting pada ibu hamil dan anak dalam 1000 pertama kehidupan yang mutakhir dan akurat melalui pengukuran tinggi dan berat badan 100% serta pemberian makanan tambahan.

Keempat, mengalokasikan anggaran yang memadai untuk mendukung menunjang program konvergensi percepatan penurunan stunting.

Kelima, membangun kolaborasi kelembagaan pemerintah (pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa/kelurahan) swasta, LSM serta lembaga agama dan adat dalam konvergensi percepatan penurunan stunting.

Keenam, mengintegrasi pecepatan penurunan dan penanganan stunting dengan program penanggulangan kemiskinan nasional dan daerah.

Ketujuh, pendayagunaan berbagai potensi lokal sebagai menu bergizi untuk makanan tambahan bagi calon ibu, ibu hamil dan bayi serta anak.

Kedelapan, melakukan peningkatan kapasitas kelembagaan dan aparat pemerintah yang professional dalam pencegahan dan penanganan stunting.

Kesembilan, melakukan supervisi, bimbingan teknis, monitoring-evaluasi, dan pengawasan secara berkala dan berkelanjutan terhadap implementasi program konvergensi stunting. 

FOLLOW US