Presiden Recep Tayyip Erdogan bersama dengan Presiden Rusia Vladimir Putin Presiden Recep Tayyip Erdogan (foto Reuters)
Katakini.com - Presiden Turki dan Rusia pada Kamis berbincang melalui telepon soal hubungan bilateral dan masalah regional termasuk wilayah Karabakh Atas, menurut Direktorat Komunikasi Turki.
Selama diskusi dengan sejawatnya dari Rusia Vladimir Putin, Presiden Recep Tayyip Erdogan menyarankan agar para pakar dari kedua negara dan Azerbaijan dapat mengadakan pembicaraan tentang bagaimana membangun kembali jalur transportasi kereta api secara lebih efisien di Karabakh berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani pada 11 Januari.
Erdogan juga memuji pusat pemantauan gencatan senjata milik Turki-Rusia di Karabakh karena berhasil memantau dan mengendalikan gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Presiden Turki mengatakan kepada Presiden Rusia bahwa upaya bersama harus dilakukan untuk menegakkan gencatan senjata di Karabakh Atas.
Azerbaijan dan Armenia bertempur selama enam minggu setelah bentrokan baru meletus pada 27 September 2020.
Tentara Armenia melancarkan serangan terhadap warga sipil dan pasukan Azerbaijan dan melanggar beberapa perjanjian gencatan senjata kemanusiaan.
Selama konflik, Azerbaijan membebaskan beberapa kota dan hampir 300 pemukiman dan desa dari pendudukan Armenia.
Kedua negara menandatangani perjanjian yang ditengahi Rusia pada 10 November untuk mengakhiri pertempuran dan bekerja menuju resolusi yang komprehensif.
Mengenai krisis Suriah, Presiden Erdogan mengatakan solusi di negara yang dilanda perang akan menjadi "keuntungan bersama," dan menekankan bahwa kesempatan untuk perdamaian dan stabilitas di Libya tidak boleh disia-siakan.
Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dan Menlu Rusia Sergey Lavrov berbicara melalui telepon untuk membahas agenda percakapan telepon Erdogan-Putin, menurut sumber diplomatik.
Suriah dilanda perang saudara sejak awal 2011 ketika rezim Assad menindak pengunjuk rasa pro-demokrasi.(Anadolu Agency)