• News

Ekonom Prediksi Ekonomi Indonesia Masih Minus 0,7% di Kuartal Pertama 2021

yahya | Kamis, 26/11/2020 18:51 WIB

Ekonom Prediksi Ekonomi Indonesia Masih Minus 0,7% di Kuartal Pertama 2021 Ekonom Indef Faisal Basri

Katakini.com - Ekonom Senior Faisal Basri memperkirakan pertumbuhan ekonomi/" style="text-decoration:none;color:#228239;font-weight: 700;">ekonomi Indonesia masih minus di kuartal pertama tahun 2021. Meskipun demikian, ekonomi/" style="text-decoration:none;color:#228239;font-weight: 700;">ekonomi akan mulai tumbuh positif sekitar 1,4% di kuartal kedua tahun 2021.

Lambatnya pertumbuhan tersebut disebabkan belum ada kejelasan perhilal penanganan pandemi Covid-19.

"Most likely, mungkin angka saya tidak akan tepat. Tapi yang penting tren membaik, tapi masih minus sampai kuartal pertama di angka -0,7%, mengingat virus akan mencapai puncak di Januari. Sementara di kuartal II baru tumbuh positif 1,4 %, karena sekali lagi vaksin belum jelas," kata Faisal pada acara webinar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021, di Jakarta, Kamis (26/11/2020).

Faisal mengatakan bahwa, lambatnya pertumbuhan ekonomi/" style="text-decoration:none;color:#228239;font-weight: 700;">ekonomi Indonesia disebabkan penanganan Covid-19 sejauh ini menurutnya belum optimal. Karena itu, kasus baru di beberapa daerah sering terjadi peningkatan. Sementara ketersediaan vaksin juga belum jelas kapan masuk ke Indonesia. Sehingga proses vaksinasi juga bisa dilakukan mundur dari target pemerintah paling cepat akhir tahun ini, atau paling lambat awal tahun depan.

"Kita lihat akibat pandemi ini saya perkirakan ekonomi/" style="text-decoration:none;color:#228239;font-weight: 700;">ekonomi akan kontraksi lebih lama. Jadi kita baru positif growth di kuartal kedua tahun depan. Kuartal pertama tahun depan saya perkirakan masih tumbuh -0,7%, dan pada kuartal kedua tahun depan baru tumbuh positif  1,4%," katanya.

Lebih lanjut Faisal mengatakan, dalam penanganan Covid-19, Indonesia menurutnya masih kalah dibandingkan dengan Filipina bahkan negara sekelas Nepal, utamanya dalam hal testing. Di Indonesia, testing baru bisa dilakukan 2.000 per 1 juta penduduk tanah air.

"Kita hanya lebih baik dari 12 negara Afrika, Myanmar, Bangladesh, yang per kapitanya lebih rendah. Bahkan ada lower income yang testingnya justru lebih besar, contohnya Nepal 57.000, Indonesia baru 19.000, Filipina 50.000," katanya.