JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memperbarui ancamannya untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran dan menyatakan Washington mungkin pada akhirnya harus menghantam negara tersebut, sementara Teheran memperingatkan bahwa konflik baru dapat berlangsung lebih lama dibanding pertempuran sebelumnya.
Saat berbicara dalam rapat umum kampanye di Iowa sehari sebelum pemilu sela AS, Trump mengklaim dirinya menahan diri dari serangan susulan semata-mata demi menghindari bertambahnya korban jiwa.
"Satu-satunya alasan mengapa saya belum selesai dengan Iran adalah karena saya ingin bersikap baik. Saya ingin mencoba dan menyelamatkan semua nyawa itu jika saya bisa," kata Trump di hadapan para pendukungnya, sebagaimana dikutip Arabnews, Senin (2/11).
"Namun pada satu titik tertentu, kita harus menghantam mereka," tambahnya.
Sebelumnya, Trump mengungkapkan kepada awak media bahwa Washington masih perlu membereskan satu atau dua target tersisa di Iran yang dapat diserang dalam hitungan menit, secara spesifik menyebut Pickaxe Mountain yang diduga merupakan kompleks nuklir bawah tanah. Pernyataan terbaru ini mencuat di tengah ketidakpastian upaya diplomatik untuk mencegah berlanjutnya kampanye militer AS-Israel melawan Iran yang dimulai sejak 28 Februari lalu.
Laporan media AS menyebutkan Trump telah berdiskusi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai negosiasi dengan Teheran serta kemungkinan eskalasi operasi militer. Laporan Axios mengungkapkan bahwa Netanyahu mendesak adanya serangan segera setelah pemilu sela AS, sedangkan Trump ingin memberikan waktu lebih bagi jalur diplomasi.
Merespons ancaman tersebut, juru bicara tentara Iran Mohammad Akraminia memperingatkan bahwa perang baru bisa berlangsung lebih lama dari konflik sebelumnya, serta menegaskan Washington tidak akan dapat mendikte waktu maupun ketentuannya. Senada dengan hal tersebut, juru bicara Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Hossein Mohebbi menegaskan tidak akan ada batasan geografis bagi medan pertempuran dalam konfrontasi dengan Washington.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Teheran tetap bersiap menghadapi opsi diplomasi maupun pertahanan, seraya berharap Washington memilih jalan perundingan. Di sisi lain, kepala keamanan Iran Mohsen Rezaei mengaku telah menerima surat dari Wakil Presiden AS JD Vance yang berupaya menghidupkan kembali dialog, meski Teheran sejauh ini belum memberikan jawaban.
Dalam upaya penyelesaian konflik, Iran menuntut pembebasan aset yang dibekukan, penghentian blokade laut AS di pelabuhan-pelabuhannya, keredaan sanksi, serta penghentian pertempuran secara menyeluruh. Kawasan Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran energi global vital, masih menjadi titik krusial perdebatan utama.
Eskalasi yang kembali memanas ini turut memicu keprihatinan negara-negara tetangga di kawasan Teluk. Penasihat diplomatik Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Anwar Gargash, menyampaikan harapannya agar upaya diplomasi membuahkan terobosan, namun mengonfirmasi bahwa pihaknya tetap bersiap menghadapi pertempuran baru.
"Bukan kepentingan kawasan untuk melewati satu putaran pertempuran lagi," tegas Gargash dalam sebuah konferensi di Manama, sembari menambahkan bahwa UEA telah "bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk".



