• Info MPR

Waka MPR Dorong Penguatan Tata Kelola Museum dan Galeri Seni Indonesia

Agus Mughni Muttaqin | Selasa, 20/10/2026 21:51 WIB

Waka MPR Dorong Penguatan Tata Kelola Museum dan Galeri Seni Indonesia Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam kunjungannya ke National Gallery of Australia di Canberra, Australia, Jumat (Foto: Humas MPR)

JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI, yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono, mendorong penguatan tata kelola museum dan galeri seni di Indonesia melalui kerja sama internasional, pendanaan berkelanjutan, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan edukasi dan literasi seni bagi generasi muda.

Hal tersebut disampaikan dalam kunjungannya ke National Gallery of Australia di Canberra, Australia, Jumat (16/10/2026). Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi Ibas Yudhoyono untuk mempelajari pengelolaan koleksi, pelestarian karya seni, pengembangan pameran, serta sistem kerja sama antara museum dan galeri dengan berbagai institusi kebudayaan di dunia.

Dalam sambutannya, Waka MPR RI menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Australia tidak cukup hanya dibangun melalui kedekatan geografis sebagai negara bertetangga, tetapi juga perlu diperkuat melalui kerja sama konkret, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi di berbagai bidang, termasuk seni dan kebudayaan.

“Sebagai anggota parlemen, kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan diplomasi antara kedua negara berjalan dengan baik dan semakin kuat. Kita tidak datang hanya untuk menyapa sebagai negara tetangga, tetapi juga untuk memastikan kerja sama, kolaborasi, dan pertukaran gagasan terus berkembang,” ujarnya.

Indonesia Memiliki Kekayaan Seni, Kerajinan, dan Wastra

Edhie Baskoro menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman budaya dan kekayaan ekspresi seni yang luar biasa. Kekayaan tersebut tidak hanya tercermin dalam seni lukis dan karya seni rupa, tetapi juga dalam kerajinan tangan atau handicraft, wastra Nusantara, seni tekstil tradisional, seni kriya, serta berbagai warisan budaya yang tumbuh di daerah-daerah.

Wastra Indonesia, mulai dari batik, tenun, songket, hingga berbagai kain tradisional khas daerah, merupakan bagian penting dari identitas bangsa yang menyimpan nilai sejarah, filosofi, keterampilan, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

Menurut lulusan Curtin University di Australia Barat tersebut, kekayaan seni dan budaya Indonesia perlu memperoleh ruang yang lebih luas melalui museum, galeri, pameran, dokumentasi, serta kolaborasi dengan seniman dan institusi kebudayaan di dalam maupun luar negeri.

Museum dan galeri tidak seharusnya hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi seni dan budaya, tempat masyarakat mengenali identitasnya, sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan Indonesia kepada dunia.

Ia juga menegaskan bahwa semangat Bhinneka Tunggal Ika harus terus menjadi landasan dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan nasional. Perbedaan tradisi, karya, dan ekspresi seni merupakan kekayaan yang memperkuat persatuan bangsa.

Belajar dari National Gallery of Australia

Dalam kunjungan tersebut, Ibas menaruh perhatian pada bagaimana National Gallery of Australia membangun dan merawat koleksi, melaksanakan kurasi, menjaga keamanan karya seni, serta mengembangkan kerja sama dengan seniman dan institusi kebudayaan internasional.

Menurutnya, pengelolaan museum membutuhkan sistem yang profesional dan berkelanjutan. Proses kurasi harus dilakukan dengan memperhatikan nilai artistik, sejarah, keaslian, konteks budaya, serta relevansi karya bagi masyarakat.

Di samping itu, aspek keamanan menjadi bagian penting, mulai dari perlindungan fisik karya, pengendalian kondisi lingkungan penyimpanan, pengelolaan risiko, hingga dokumentasi dan pengamanan informasi koleksi.

Museum juga perlu memperhatikan aspek ramah lingkungan dalam operasionalnya, termasuk efisiensi energi, pengelolaan sumber daya, penggunaan material yang sesuai, serta penerapan praktik konservasi yang memperhitungkan keberlanjutan lingkungan.

“Bagi kami, menarik untuk mempelajari bagaimana sebuah galeri nasional mengelola koleksinya, menjaga karya seni, mengembangkan pameran, serta membangun kerja sama dengan berbagai institusi di dunia. Pengalaman seperti ini penting untuk menjadi bahan pembelajaran bagi pengembangan museum dan galeri di Indonesia,” ungkapnya.

Ibas Yudhoyono menilai pertukaran pengalaman tersebut dapat membantu Indonesia mengembangkan tata kelola museum yang semakin profesional, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman, tanpa meninggalkan karakter serta kekayaan budaya nasional.

Pendanaan Berkelanjutan dan Penguatan Regulasi

Salah satu aspek penting yang menjadi perhatian Ibas adalah kebutuhan pendanaan berkelanjutan bagi museum dan galeri seni.

Menurutnya, pengelolaan museum tidak berhenti ketika sebuah bangunan didirikan atau koleksi berhasil dihimpun. Museum membutuhkan pembiayaan jangka panjang untuk konservasi, perawatan fasilitas, pengembangan koleksi, penelitian, penyelenggaraan pameran, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, keamanan, dan pelayanan publik.

Pendanaan yang berkelanjutan diperlukan agar museum dapat menjalankan fungsinya secara konsisten dan tidak hanya bergantung pada proyek atau program dalam jangka pendek.

Karena itu, diperlukan pemikiran yang komprehensif mengenai model pendanaan museum, termasuk dukungan pemerintah, kemitraan yang bertanggung jawab dengan sektor swasta, kolaborasi dengan lembaga kebudayaan, serta mekanisme lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan prinsip pelindungan warisan budaya.

Waka MPR RI juga menyoroti pentingnya kerangka regulasi yang mampu memberikan kepastian dalam pengelolaan, pemeliharaan, pengembangan, dan pelindungan koleksi museum maupun galeri.

Indonesia memiliki beragam museum, galeri, dan ruang pameran seni dengan karakteristik dan kapasitas yang berbeda-beda. Penguatan kebijakan perlu memperhatikan kebutuhan institusi di tingkat nasional maupun daerah agar pengembangan kebudayaan tidak terpusat pada kota-kota besar saja.

Pengalaman Australia, menurut Ibas, dapat dipelajari untuk mengidentifikasi praktik yang relevan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan Indonesia.

Museum SBY*ANI di Pacitan: Merawat Sejarah dan Memori Bangsa

Dalam sambutannya, Edhie Baskoro juga menyinggung keberadaan museum dan galeri seni yang didirikan oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di Pacitan, Jawa Timur.

Museum dan Galeri Seni SBY*ANI menjadi salah satu contoh bagaimana ruang museum dapat menghadirkan hubungan antara seni, sejarah, perjalanan kepemimpinan, dan memori personal maupun kebangsaan.

Ibas mengenang bahwa meskipun skala dan koleksi museum tersebut berbeda dari National Gallery of Australia, setiap museum memiliki nilai dan karakter tersendiri. Koleksi yang dimiliki tidak hanya dapat dinilai dari kemegahan bangunan atau nama besar seniman yang dipamerkan, tetapi juga dari cerita, pengalaman, dan nilai sejarah yang disampaikan kepada masyarakat.

Baginya, museum memiliki peran penting dalam menjaga ingatan lintas generasi. Melalui karya seni, dokumentasi, dan berbagai benda bersejarah, masyarakat dapat memahami perjalanan masa lalu serta mengambil pelajaran untuk masa depan.

Perhatian terhadap seni dan budaya juga mengingatkan Ibas pada kecintaan terhadap karya seni yang diwariskan dalam keluarga SBY. Hal tersebut memperkuat pandangannya bahwa pelestarian seni perlu didukung oleh kepedulian, pengelolaan yang baik, dan komitmen jangka panjang.

Edukasi dan Literasi Seni bagi Generasi Muda

Selain fungsi pelestarian, Ibas menekankan bahwa museum perlu dikembangkan sebagai pusat edukasi dan literasi seni yang mudah diakses oleh masyarakat, terutama generasi muda.

Indonesia memiliki populasi generasi muda yang besar, termasuk generasi Z dan generasi berikutnya yang tumbuh dalam lingkungan digital. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi museum dan galeri untuk menghadirkan pendekatan edukasi yang lebih kreatif, interaktif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Pemanfaatan teknologi digital dapat memperluas akses terhadap koleksi, menghadirkan informasi sejarah dan budaya, mendukung pameran virtual, serta membuka ruang pembelajaran yang tidak terbatas pada kunjungan fisik.

Namun, digitalisasi perlu berjalan beriringan dengan penguatan literasi seni. Generasi muda tidak cukup hanya diperkenalkan pada gambar atau informasi mengenai sebuah karya, tetapi juga perlu dibantu memahami latar sejarah, makna, teknik, nilai budaya, dan proses kreatif di baliknya.

Museum dapat memperkuat fungsi edukasi melalui program kunjungan sekolah, lokakarya seni, diskusi bersama seniman, program kuratorial untuk publik, materi pembelajaran digital, dan kegiatan yang melibatkan komunitas.

Dengan demikian, museum tidak hanya menjadi tempat yang dikunjungi sesekali, melainkan ruang belajar yang membangun apresiasi, kreativitas, daya kritis, dan rasa memiliki terhadap warisan budaya bangsa.

Membuka Ruang Kolaborasi Internasional

Ibas Yudhoyono juga menyampaikan pentingnya mempelajari mekanisme kerja sama internasional antarmuseum, termasuk pertukaran koleksi, peminjaman dan peminjaman silang karya seni, penyelenggaraan pameran bersama, pengembangan penelitian, serta kerja sama dengan seniman dan kurator dari berbagai negara.

Menurutnya, kerja sama semacam ini perlu didukung oleh tata kelola yang jelas, dokumentasi yang memadai, standar keamanan, kepatuhan terhadap ketentuan hukum, serta perlindungan terhadap nilai dan kepentingan budaya masing-masing negara.

Bagi Indonesia, kolaborasi internasional merupakan peluang untuk memperluas pengenalan seni dan budaya Nusantara, termasuk wastra dan kerajinan tradisional, sekaligus meningkatkan kapasitas museum dan tenaga profesional di bidang kebudayaan.

Dalam diskusi tersebut, Aliya Rajasa Yudhoyono, yang turut hadir dan juga menaruh perhatian pada dunia seni, menyampaikan apresiasinya terhadap koleksi serta penataan National Gallery of Australia. Menurut Aliya, mengapresiasi karya seni juga merupakan bagian dari memahami peradaban.

“Looking at art, it`s the same as looking at civilization as well,” ujar Aliya.

Ia menilai, meskipun kunjungan berlangsung singkat, banyak hal yang dapat diamati dan dipelajari dari koleksi serta cara galeri menyajikan karya kepada pengunjung. Aliya juga melihat peluang untuk memperluas kolaborasi seni Indonesia–Australia melalui pameran bersama yang menghadirkan koleksi dari kedua negara, sehingga masyarakat dapat semakin mengenal dan mengapresiasi kekayaan seni masing-masing.

Sementara itu, Dr. Renée Joyce, Wakil Direktur Collection Management & Art Services National Gallery of Australia, menjelaskan bahwa galeri tersebut mengelola sekitar 155.000 karya seni dari Australia dan berbagai kawasan dunia, termasuk Asia-Pasifik. Ia menyampaikan bahwa salah satu tanggung jawab utama galeri adalah menjaga koleksi sebagai warisan nasional sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap karya seni.

“The collection is owned by the people of Australia. We see ourselves as the custodians of it,” ujar Renée, menegaskan bahwa koleksi tersebut merupakan milik masyarakat Australia, sementara galeri bertindak sebagai penjaga yang bertanggung jawab atas pelestariannya.

Renée juga menekankan pentingnya keterbukaan terhadap kolaborasi internasional dan pertukaran pengetahuan di bidang seni. Menurutnya, meskipun National Gallery of Australia memiliki sumber daya dan dukungan pemerintah yang kuat, kerja sama dengan institusi dari berbagai negara tetap penting untuk saling belajar dan berkembang.

Ia menyambut baik peluang pertukaran pengetahuan dengan Indonesia, termasuk kemungkinan kunjungan antartim dan pengembangan kolaborasi budaya. Dalam pengelolaan koleksi, Renée turut menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara keamanan karya dan pengunjung dengan kebutuhan untuk menghadirkan seni secara terbuka agar dapat dinikmati dan dipelajari masyarakat.

Ibas berharap pengalaman yang diperoleh dari kunjungan ke National Gallery of Australia dapat menjadi bahan masukan bagi pengembangan kebijakan dan program kebudayaan di Indonesia, termasuk melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.

Kebudayaan sebagai Jembatan Persahabatan

Menutup sambutannya, Waka MPR RI menyampaikan apresiasi atas keramahan masyarakat Australia serta kesempatan untuk mempelajari pengelolaan National Gallery of Australia. Ia juga mengenang pengalamannya menempuh pendidikan di Curtin University, Australia Barat, yang memberikan kedekatan tersendiri dengan negara tersebut.

Edhie Baskoro menegaskan bahwa diplomasi tidak hanya berlangsung melalui pertemuan politik dan hubungan antarpemerintah, tetapi juga dapat dibangun melalui seni, kebudayaan, pendidikan, dan hubungan antarmasyarakat.

Melalui penguatan kerja sama Indonesia–Australia di bidang kebudayaan, diharapkan terbuka lebih banyak kesempatan untuk pertukaran pengetahuan, pengembangan kapasitas, penyelenggaraan pameran bersama, serta pengenalan kekayaan seni dan budaya kedua negara.

Pada akhirnya, pelestarian kebudayaan membutuhkan komitmen bersama, dukungan pendanaan yang berkelanjutan, tata kelola yang profesional, dan partisipasi masyarakat lintas generasi.

Dengan menjadikan museum sebagai ruang pelestarian, edukasi, inovasi, dan dialog antarbudaya, Indonesia dapat terus menjaga kekayaan sejarahnya sekaligus memperkenalkan identitas budaya bangsa kepada masyarakat dunia.