• Gaya Hidup

Hari Trombosis Sedunia Setiap 13 Oktober, Ini Sejarahnya

Vaza Diva | Selasa, 13/10/2026 21:30 WIB

Hari Trombosis Sedunia Setiap 13 Oktober, Ini Sejarahnya Hari Trombosis Sedunia setiap 13 Oktober, ini sejarah dan tujuannya (Foto: Freepik)

JAKARTA - Setiap tanggal 13 Oktober, komunitas medis dan masyarakat internasional memperingati Hari Trombosis Sedunia atau World Thrombosis Day.

Peringatan ini ditujukan untuk memusatkan perhatian publik terhadap ancaman penggumpalan darah (trombosis), sebuah kondisi medis tersembunyi yang menjadi salah satu pemicu utama kematian dan disabilitas di seluruh dunia.

Lahirnya Hari Trombosis Sedunia diinisiasi oleh International Society on Thrombosis and Haemostasis (ISTH) pada tahun 2014.

Pemilihan tanggal 13 Oktober secara khusus ditujukan untuk mengabadikan hari kelahiran Dr. Rudolf Virchow, seorang dokter dan ahli patologi asal Jerman abad ke-19.

Virchow dikenal sebagai pionir medis yang pertama kali mengidentifikasi serta merumuskan konsep patofisiologi penggumpalan darah yang kini dikenal dalam dunia kedokteran sebagai Virchow’s Triad.

Tujuan utama dari peringatan tahunan ini adalah meningkatkan pemahaman masyarakat global mengenai bahaya trombosis, yang sering kali berkembang tanpa gejala awal yang jelas.

Data medis menunjukkan bahwa satu dari empat kematian di dunia berkaitan dengan kondisi yang dipicu oleh gumpalan darah. Trombosis merupakan akar penyebab dari tiga kondisi kardiovaskular paling mematikan, yaitu serangan jantung, stroke, dan tromboemboli vena (venous thromboembolism / VTE).

Melalui kampanye edukasi yang digelar di berbagai negara, peringatan ini mendorong masyarakat untuk mengenali faktor risiko dan gejala awal, seperti pembengkakan serta rasa nyeri pada kaki akibat Deep Vein Thrombosis (DVT) atau sesak nafas mendadak akibat Pulmonary Embolism (emboli paru).

Selain itu, momentum ini juga menyoroti pentingnya pencegahan sejak dini.

Langkah-langkah sederhana seperti tetap aktif bergerak, menghindari duduk terlalu lama, menjaga hidrasi tubuh, serta menjalani gaya hidup sehat terbukti efektif menekan risiko pembentukan gumpalan darah yang membahayakan nyawa.