Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke 81 (Foto: Humas MPR)
JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menekankan pentingnya merawat sejarah, menjaga persatuan, serta melanjutkan perjuangan para pahlawan dan pendiri bangsa melalui kontribusi nyata sesuai tantangan zaman.
Pesan tersebut disampaikan Ibas dalam audiensi dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke 81. Dalam kesempatan itu, Ibas menyambut para peserta di Rumah Kebangsaan MPR RI dan menegaskan bahwa MPR tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam mengawal konstitusi, tetapi juga turut menjaga kedaulatan rakyat.
“Di rumah inilah kita terus memikirkan bagaimana konstitusi negara tetap kita jadikan pedoman. Tapi di sisi lain, kita meyakini bahwa hari ini gerak dan rakyat adalah yang paling besar untuk kita perjuangkan,” ujar Ibas.
Menurut Ibas, merawat sejarah bukan sekadar mengingat nama tokoh atau peristiwa masa lalu. Sejarah harus menjadi jejak sekaligus kompas bagi generasi hari ini dalam menentukan arah perjalanan bangsa ke depan.
Karena itu, sejarah perlu disampaikan dengan cara yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman, baik melalui film, musik, podcast, teknologi, media sosial, maupun berbagai aktivitas publik.
“Jangan sampai kita seperti hilang akar. Marilah sama-sama kita ceritakan sejarah yang membanggakan generasi kita,” kata Ibas.
Lulusan Curtin University, Australia, yang juga menempuh pendidikan di Nanyang Technological University, Singapura tersebut menilai generasi muda perlu mengenal sejarah melalui bahasa dan media yang dekat dengan keseharian mereka. Namun, kemasan yang kekinian tetap harus berpijak pada data dan fakta agar sejarah tidak kehilangan makna maupun kebenarannya.
Sejalan dengan hal tersebut, ahli sejarah dan pegiat sejarah publik, Asep Kambali, menekankan pentingnya pendidikan dalam menjaga keberlanjutan sejarah. Menurutnya, sejarah tidak cukup hanya dipelajari sebagai pengetahuan masa lalu, tetapi harus mampu memberikan makna dan membentuk generasi yang dapat menciptakan sejarahnya sendiri.
“Suatu bangsa dapat hidup dari makanan, tetapi hanya dengan pendidikan bangsa itu dapat hidup melintasi zaman,” ujar Asep.
Ia juga mendorong agar jejak sejarah terus dirawat melalui museum, arsip, dan berbagai ruang pembelajaran publik. Menurut Asep, mempelajari sejarah dan mengambil makna dari perjalanan masa lalu penting dilakukan, tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana generasi hari ini mampu menciptakan karya dan prestasi yang kelak menjadi bagian dari sejarah Indonesia.
Pandangan serupa disampaikan Gustika Hatta, cucu Mohammad Hatta. Ia menilai tantangan dalam memperkenalkan sejarah kepada generasi muda salah satunya adalah bagaimana membuat sejarah tidak berhenti pada hafalan tanggal dan peristiwa. Sejarah merupakan perjalanan bangsa yang perlu dipahami untuk menentukan apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Mengenal sejarah bukan hanya melihat ke belakang, tetapi juga melihat ke depan, apa yang kita mau wariskan dalam sejarah ini,” ujar Gustika.
Sementara itu, Sulaiman, anggota FKPPI menekankan kembali pentingnya pesan Bung Karno, “Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah.”
Menurutnya, generasi muda perlu memahami perjalanan bangsa dan para tokoh pendiri negara agar tidak kehilangan akar identitas kebangsaan. Ia juga melihat media sosial sebagai medan baru untuk menyampaikan nilai-nilai sejarah melalui kampanye kreatif yang dapat menjangkau anak muda.
Bagi generasi muda FKPPI, pemahaman sejarah juga perlu diterjemahkan dalam bentuk kontribusi nyata.
Karena itu, diperlukan ruang untuk masuk ke sekolah, kampus, hingga lingkungan karang taruna guna memperkenalkan Pancasila, menjaga ketertiban bersama TNI dan Polri, sekaligus mendorong kewirausahaan, ekonomi kreatif, dan keterampilan digital agar generasi muda tidak hanya bangga terhadap perjuangan orang tua mereka, tetapi juga mampu menciptakan sejarahnya sendiri.
Ibas Yudhoyono juga menyinggung pentingnya kepemimpinan yang mampu mendengar. Baginya, menjadi pemimpin bukan hanya soal berbicara atau memberikan arahan, tetapi juga memahami aspirasi masyarakat dan menerjemahkannya dalam visi serta misi yang nyata.
Dalam konteks demokrasi, Wakil Ketua MPR RI itu menegaskan bahwa rakyat merupakan pemegang kedaulatan. Karena itu, partisipasi masyarakat tidak berhenti pada momentum pemilihan umum, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian, kritik, serta kontribusi terhadap berbagai persoalan bangsa.
Ia mengajak masyarakat untuk dapat mendukung program yang baik sekaligus tetap kritis terhadap kebijakan yang perlu diperbaiki. “Kritis bukan berarti kita membencinya,” tegas Edhie Baskoro.
Menurut Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI tersebut, perbedaan pandangan merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Masyarakat tidak harus memiliki pemikiran yang sama dalam segala hal, tetapi perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti merasa sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Hal tersebut sejalan dengan pandangan Rizki Aulia Rahman Natakusumah yang menilai generasi muda saat ini memiliki akses informasi yang jauh lebih terbuka. Media sosial dan teknologi kecerdasan artifisial dapat dimanfaatkan untuk membuat sejarah dan politik lebih dekat dengan anak muda, sekaligus mendorong mereka untuk berpikir kritis, bukan sekadar menghafal.
Menurut Rizki, perkembangan teknologi merupakan momentum yang menarik untuk mengajak generasi muda bertanya mengenai apa yang akan dilakukan jika para pahlawan dan pendiri bangsa melihat Indonesia dalam kondisi saat ini. Pertanyaan tersebut, menurutnya, dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran sekaligus mendorong adanya tindak lanjut nyata.
Edhie Baskoro menegaskan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan keberagaman karakter, kebutuhan, serta tantangan di setiap wilayah. Karena itu, persatuan tidak berarti menyeragamkan seluruh kebutuhan masyarakat, melainkan memastikan setiap daerah tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia.
Ia mencontohkan kawasan perbatasan seperti Natuna yang tidak hanya membutuhkan perhatian dari sisi pertahanan dan keamanan, tetapi juga pendidikan, kesehatan, serta kesejahteraan masyarakat. “Tidak hanya pertahanan keamanan, tetapi bagaimana masyarakat di sana juga mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan,” ujar Ibas.
Menurut politikus Partai Demokrat tersebut, menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia juga berarti memastikan masyarakat dapat merasakan kehadiran negara melalui kehidupan yang layak dan kesempatan untuk berkembang.
Dalam kesempatan tersebut, Ibas Yudhoyono juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangun semangat gotong royong lintas generasi. Kontribusi kepada bangsa, menurutnya, tidak selalu harus dilakukan melalui panggung besar atau jabatan tertentu.
“Kontribusi tidak selalu terlihat, tidak selalu harus besar. Yang penting adalah apa yang bisa kita lakukan untuk bangsa ini,” ujar Ibas.
Ia melihat pengalaman generasi terdahulu dan kreativitas generasi muda sebagai dua kekuatan yang dapat saling melengkapi. Pengalaman memberikan fondasi, sementara inovasi memberikan cara baru untuk menghadapi tantangan zaman.
Dalam konteks tersebut, Dr. EBY juga berbicara dari pengalaman pribadinya sebagai “anak kolong” yang memahami bahwa perjalanan hidup dan perjuangan tidak selalu mudah. Menurutnya, pengalaman tersebut justru menjadi pengingat bahwa setiap generasi memiliki tantangan masing-masing dan harus saling menguatkan untuk melanjutkan perjuangan bangsa.
Wakil Ketua Umum Partai Demokrat itu menilai perkembangan teknologi memberikan ruang yang semakin luas untuk memperkenalkan sejarah kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Media sosial, berbagai aplikasi, hingga platform digital dapat menjadi sarana untuk membuat sejarah lebih mudah dipahami tanpa menghilangkan nilai dan substansinya.
Karena itu, pendekatan dalam menyampaikan sejarah perlu terus beradaptasi. Sejarah tidak harus selalu dikemas secara kaku, tetapi tetap harus disampaikan secara bertanggung jawab berdasarkan data dan fakta.
Menurut Edhie Baskoro, perjuangan para pahlawan harus dapat dipahami melalui konteks kehidupan hari ini. Jangan sampai generasi muda menerima informasi yang keliru atau sejarah yang telah diputarbalikkan.
Ia juga mengingatkan bahwa sejarah Indonesia tidak hanya berbicara mengenai perjuangan bersenjata, tetapi juga mencakup kekayaan budaya, bahasa, kuliner, agama, hingga pariwisata yang membentuk identitas bangsa.
Karena itu, keberadaan museum dan arsip menjadi penting sebagai bagian dari upaya menjaga memori kolektif bangsa. “Merawat sejarah adalah banyak hal: mengingat, merawat dan menjaga,” ujar Ibas.
Rizki menambahkan, penggunaan media sosial dan teknologi AI dapat menjadi sarana untuk membuat pembelajaran sejarah lebih menarik bagi generasi muda. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap perlu diarahkan agar anak muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, melainkan mampu mengolah informasi secara kritis.
Sementara itu, Anton Sukartono Suratto menyoroti pentingnya pemberdayaan generasi muda melalui ekonomi digital. Menurutnya, perkembangan teknologi dapat membuka peluang bagi anak muda untuk membangun usaha melalui e-commerce, pemasaran digital, dan berbagai sektor ekonomi kreatif.
Anton juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai bangsa yang pernah memainkan peran penting dalam percaturan global, termasuk dalam konteks kepemimpinan Asia-Afrika. Karena itu, generasi muda perlu belajar dari sejarah dengan prinsip amati, tiru, dan modifikasi agar mampu menciptakan sesuatu yang relevan dengan zamannya.
Teuku Ibrahim turut menekankan pentingnya penguatan pendidikan sejarah dan pendidikan moral Pancasila. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki pemahaman sejarah yang kuat agar tidak mudah kehilangan arah. FKPPI juga dapat mengambil peran dalam memperkuat edukasi di sekolah, kampus, maupun lingkungan masyarakat, termasuk dalam menjaga generasi muda dari berbagai persoalan sosial seperti narkoba dan judi online.
Ibas menegaskan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan yang telah dimulai oleh generasi sebelumnya. Perjuangan tersebut tidak selalu berarti mengulang apa yang dilakukan para pahlawan, tetapi meneruskan semangatnya dalam menghadapi persoalan yang berbeda.
Ia mengibaratkan generasi terdahulu sebagai orang tua yang telah membuka jalan, sementara generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan dan memperbaiki jalan tersebut agar dapat dilalui oleh generasi berikutnya.
“Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Apa yang kita lakukan hari ini akan menjadi bagian dari sejarah yang akan diceritakan kepada generasi berikutnya,” ujar Ibas.
Karena itu, semangat perjuangan harus terus diterjemahkan dalam bentuk kerja nyata, kepedulian, dan kontribusi sesuai kapasitas masing-masing. Bagi Edhie Baskoro, merawat sejarah bukan hanya tentang melihat masa lalu, tetapi juga memastikan bahwa generasi hari ini mampu meninggalkan warisan yang baik bagi Indonesia.
“Semangat hari ini adalah semangat untuk Indonesia yang lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih maju,” pungkasnya.