• Info MPR

Neng Eem Ajak Masyarakat Cianjur Lestarikan Ngaos, Mamaos, Maenpo

Agus Mughni Muttaqin | Senin, 05/10/2026 16:15 WIB

Neng Eem Ajak Masyarakat Cianjur Lestarikan Ngaos, Mamaos, Maenpo Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) MPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz atau Neng Eem saat menghadiri sekaligus membuka Pagelaran Rakyat dalam Gelar Budaya Ngaos, Mamaos, Maenpo bertema Dengan Empat Pilar MPR Kita Lestarikan Budaya Perkuat Persatuan di Cianjur, Jawa Barat, Minggu (Foto: Humas MPR)

JAKARTA - Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) MPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz atau atau Neng Eem mendorong masyarakat Cianjur, untuk kembali menghidupkan budaya Ngaos, Mamaos, dan Maenpo sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Sunda.

Hal itu disampaikan Neng Eem saat menghadiri sekaligus membuka Pagelaran Rakyat dalam Gelar Budaya Ngaos, Mamaos, Maenpo bertema "Dengan Empat Pilar MPR Kita Lestarikan Budaya Perkuat Persatuan" di Cianjur, Jawa Barat, Minggu (4/10/2026).

Acara tersebut turut dihadiri Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal MPR RI Budi Muliawan beserta jajaran, Ketua DPC PKB Kabupaten Cianjur Asep Suherman, beberapa anggota DPRD Kabupaten Cianjur, serta masyarakat sekitar.

Menurut Neng Eem, Ngaos, Mamaos, dan Maenpo bukan sekadar rangkaian pertunjukan budaya. Ketiganya merupakan filosofi yang menggambarkan karakter, identitas, serta tradisi kehidupan sosial masyarakat Cianjur.

"Ngaos itu bahasa Sunda. Kalau bahasa Indonesianya adalah mengaji. Jadi mengaji itu tidak hanya mengaji ilmu agama, tetapi mengaji diri, mengaji alam. Itu juga bagian dari Ngaos," ujar Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI ini.

Ia mengatakan, tradisi Ngaos mengajarkan masyarakat untuk terus memperkuat pengetahuan dan melakukan refleksi terhadap diri serta lingkungan. Dengan begitu, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Sementara itu, Mamaos merupakan seni tembang Cianjuran yang menjadi salah satu identitas budaya Cianjur. Seni vokal tersebut biasanya diiringi petikan kecapi dan suling, dengan lirik yang sarat pesan moral, keindahan alam, puji-pujian, serta ungkapan rasa syukur.

"Mamaos yang memang lahir dari tanah Pasundan biasanya kata-katanya penuh pesan. Tidak hanya sekadar seperti Mamaos hari ini yang kontemporer, tetapi Mamaos yang dilahirkan dalam budaya Sunda itu biasanya sarat dengan pesan-pesan yang bijak, pesan-pesan hidup," kata dia.

Adapun Maenpo merupakan seni bela diri pencak silat yang berkembang di tanah Sunda. Bagi anggota Komisi IX DPR RI ini, Maenpo tidak hanya berkaitan dengan kekuatan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari rangkaian nilai budaya yang saling berkaitan dengan Ngaos dan Mamaos.

Neng Eem menegaskan, ketiga unsur tersebut seharusnya tidak dipisahkan karena masing-masing memiliki pesan dan nilai yang saling melengkapi. Bahkan, dalam tradisi Maenpo terdapat iringan musik dan pesan-pesan yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Sunda.

Namun, Neng Eem menyoroti keberadaan tradisi tersebut yang dinilainya semakin berkurang. Budaya Cianjur saat ini lanjutnya, lebih sering ditampilkan dalam kegiatan seremonial, sementara ruang untuk mempelajari dan menghidupkannya dalam kehidupan masyarakat semakin terbatas.

"Dulu banyak perguruan-perguruan Maenpo. Sekarang mungkin hanya beberapa di Cianjur, bisa dihitung jari. Kalau dulu hampir di setiap RT, di setiap desa itu selalu ada," ujarnya.

Karena itu, menurut Wakil Rakyat Dapil Jawa Barat III ini, MPR RI melalui kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR berupaya menghadirkan kembali budaya lokal agar tidak hilang dari kehidupan masyarakat.

"Oleh karena itu, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia hadir untuk menghidupkan budaya tersebut, untuk menjaga budaya tersebut agar tidak lekang, agar tidak hilang dari peredaran kehidupan kita semuanya," kata Neng Eem.

Ia juga menilai pendekatan budaya, dapat menjadi salah satu cara untuk menyampaikan nilai-nilai Empat Pilar MPR kepada masyarakat akar rumput.

"Budaya Cianjur ini salah satu bentuk sosialisasi Empat Pilar MPR yang menurut saya efektif disampaikan ke masyarakat akar rumput. Pendekatan budaya lebih akan tersampaikan dengan mudah, pendekatan budaya kan lebih cair," tuturnya.

Neng Eem mengajak masyarakat untuk bersama-sama memperkuat dan menghidupkan kembali budaya lokal karena kearifan tersebut merupakan bagian dari identitas masyarakat sekaligus dapat memperkuat persatuan.

"Pesan saya kepada masyarakat tentang budaya ini, kita harus memperkuat budaya, menghidupkan kembali budaya ini karena bagian dari kearifan lokal yang akan memperkuat bangsa ini agar kita tidak tercerabut dari NKRI yang kita cintai," tandasnya.

Setelah sesi pembukaan, Neng Eem bersama para tamu undangan dan masyarakat kemudian menyaksikan berbagai penampilan budaya yang mencerminkan tradisi Ngaos, Mamaos, dan Maenpo. Pertunjukan tersebut dibawakan komunitas pecinta budaya setempat.