• Gaya Hidup

Mengapa Hari Lahir Pembela Tanah Air Diperingati Setiap 3 Oktober?

Vaza Diva | Sabtu, 03/10/2026 03:03 WIB

Mengapa Hari Lahir Pembela Tanah Air Diperingati Setiap 3 Oktober? Ilustrasi - Hari Lahir Pembela Tanah Air setiap 3 Oktober, ini sejarahnya (Foto: Wikipedia)

JAKARTA - Setiap tanggal 3 Oktober, bangsa Indonesia mengenang salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, yakni Hari Lahir Pembela Tanah Air (PETA).

Kehadiran organisasi militer yang dibentuk pada era pendudukan Jepang ini menjadi cikal bakal lahirnya satuan tentara nasional yang kelak menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Melansir berbagai sumber, pembentukan PETA bermula dari dinamika Perang Dunia II. Pada pertengahan tahun 1943, posisi militer Jepang di Pasifik mulai terdesak oleh pasukan Sekutu.

Guna memperkuat pertahanan di wilayah jajahan, khususnya Pulau Jawa, pemerintah militer Jepang memandang perlunya melibatkan penduduk lokal dalam kekuatan tempur.

Gagasan tersebut dimanifestasikan melalui surat permohonan yang diajukan oleh seorang tokoh pergerakan asal Tasikmalaya, R. Gatot Mangkupradja, kepada Panglima Tentara Ke-16 Jepang, Letnan Jenderal Kumakichi Harada.

Tanggal 3 Oktober 1943, pemerintah militer Jepang secara resmi mengeluarkan Osamu Seirei Nomor 44 tentang pembentukan tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Pulau Jawa.

Meskipun dirancang oleh Jepang sebagai pasukan pembantu untuk menghadapi serangan Sekutu, PETA justru dimanfaatkan oleh para pemuda dan tokoh pergerakan Indonesia sebagai sarana menimba ilmu militer secara profesional.

Melalui pelatihan ketat di pusat pendidikan militer Bogor (Bo-sei Dai Ichi Kyoiku Tai), para perwira PETA dibekali strategi perang, taktik tempur, dan kedisiplinan tinggi.

Semangat nasionalisme yang tertanam kuat di tubuh para perwira PETA pada akhirnya berbalik melawan Jepang.

Salah satu peristiwa paling bersejarah adalah pemberontakan pasukan PETA di Blitar pada 14 Februari 1945 yang dipimpin oleh Shodanco Supriyadi.

Pasca-proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan pembubaran PETA oleh Jepang, para alumni PETA memegang peranan krusial dalam mempertahankan kemerdekaan.

Tokoh-tokoh besar seperti Jenderal Soedirman, Jenderal Ahmad Yani, hingga Soeharto merupakan lulusan pendidikan PETA.

Pengalaman serta struktur militer yang dibawa oleh eks-anggota PETA ini kemudian menjadi pondasi utama pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), hingga berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) seperti yang dikenal saat ini.