• Gaya Hidup

Hari Kesadaran Ataksia Internasional Setiap 25 September, Ini Sejarah dan Tujuannya

Vaza Diva | Jum'at, 25/09/2026 06:06 WIB

Hari Kesadaran Ataksia Internasional Setiap 25 September, Ini Sejarah dan Tujuannya Ilustrasi - Hari Kesadaran Ataksia Internasional setiap 25 September, ini sejarahnya (Foto: Freepik)

JAKARTA - Masyarakat medis dunia memperingati Hari Kesadaran Ataksia Internasional atau International Ataxia Awareness Day (IAAD) setiap tanggal 25 September.

Peringatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan pemahaman publik mengenai ataksia, sebuah kondisi gangguan saraf yang sering kali kurang dikenal meski memiliki dampak cukup signifikan bagi para pengidapnya.

Inisiatif peringatan ini digagas pertama kali pada tahun 2000 oleh berbagai organisasi pasien dan lembaga medis internasional, termasuk National Ataxia Foundation (NAF).

Tujuan utamanya adalah mengedukasi masyarakat luas, mendorong deteksi dini, serta menggalang dukungan dana bagi riset ilmiah guna menemukan metode pengobatan yang efektif.

Ataksia sendiri merupakan gejala dari gangguan pada sistem saraf pusat, khususnya bagian otak kecil (serebelum) yang berfungsi mengontrol koordinasi tubuh.

Pengidap kondisi ini umumnya mengalami kesulitan dalam mengontrol gerakan fisik, seperti gangguan keseimbangan saat berjalan, tremor, penurunan fungsi motorik halus, hingga kendala dalam berbicara dan menelan.

Kondisi ataksia dapat disebabkan oleh faktor genetik yang diwariskan dari keluarga, maupun faktor sekunder seperti cedera otak, stroke, infeksi, hingga penyakit autoimun.

Karena gejalanya yang sering menyerupai penyakit neurologis lain, diagnosis yang akurat serta penanganan medis secara dini menjadi krusial untuk membantu menjaga kualitas hidup pasien.

Melalui momentum 25 September ini, berbagai kampanye kesehatan di seluruh dunia terus menyuarakan pentingnya inklusivitas bagi penderita ataksia.

Peringatan ini juga menjadi seruan bagi komunitas medis global untuk mempercepat penelitian riset terapi genetik dan obat-obatan baru demi harapan kesembuhan para penyintas di masa depan.