Ilustrasi amnesia (FOTO: SHUTTERSTOCK)
JAKARTA - Banyak orang sering kali menyamakan kondisi amnesia dan demensia karena keduanya sama-sama berkaitan dengan masalah penurunan daya ingat.
Padahal, secara medis, kedua gangguan neurologis ini memiliki karakteristik, penyebab, dan dampak yang sangat berbeda terhadap fungsi kognitif penderitanya.
Dihimpun dari berbagai sumber, Amnesia secara spesifik merujuk pada kondisi hilangnya memori atau ketidakmampuan seseorang untuk mengingat informasi, fakta, dan peristiwa tertentu.
Kondisi ini umumnya dipicu oleh kejadian yang tiba-tiba, seperti cedera kepala akibat kecelakaan, trauma psikologis yang berat, peradangan otak, atau efek samping obat-obatan tertentu.
Penderita amnesia mungkin melupakan identitas dirinya atau kejadian di masa lalu, namun fungsi kognitif lainnya tetap terjaga.
Mereka tetap memiliki kemampuan untuk berpikir logis, berbicara dengan lancar, memahami lingkungan sekitar, dan menyadari bahwa mereka sedang mengalami kehilangan ingatan.
Di sisi lain, demensia bukanlah penyakit tunggal, melainkan sebuah istilah medis yang merujuk pada serangkaian gejala penurunan fungsi otak yang bersifat progresif.
Kondisi ini paling sering dialami oleh kelompok lanjut usia akibat kerusakan sel-sel saraf otak yang memburuk secara perlahan, seperti yang terjadi pada penderita Alzheimer.
Demensia memiliki cakupan kerusakan yang jauh lebih luas dibandingkan amnesia. Penderitanya tidak hanya mengalami masalah memori, tetapi juga menderita penurunan kemampuan kognitif secara menyeluruh.
Hal ini mencakup kesulitan dalam memecahkan masalah, perubahan kepribadian dan perilaku, kebingungan terhadap waktu dan tempat, hingga hilangnya kemampuan dasar untuk mengurus diri sendiri.
Perbedaan paling mencolok antara keduanya terletak pada perkembangan penyakit dan kesadaran penderitanya. Amnesia murni menyerang pusat memori tanpa merusak kecerdasan intelektual, dan dalam banyak kasus, ingatan penderita dapat pulih kembali seiring berjalannya waktu atau melalui terapi.
Sebaliknya, demensia bersifat degeneratif, artinya kondisi otak akan terus menyusut dan memburuk secara permanen. Selain itu, penderita demensia sering kali tidak menyadari adanya perubahan perilaku atau penurunan kemampuan pada diri mereka sendiri.
Jika anggota keluarga mulai menunjukkan tanda-tanda kehilangan ingatan yang tidak wajar, pemeriksaan saraf secara menyeluruh sangat dianjurkan untuk menentukan langkah perawatan yang paling sesuai.