• News

Tentara AS Terluka dalam Konflik dengan Iran Tembus 757 Orang

M.Habib Saifullah | Jum'at, 21/08/2026 10:35 WIB
Tentara AS Terluka dalam Konflik dengan Iran Tembus 757 Orang Ilustrasi - Tentara AS terlihat dalam upacara serah terima pangkalan militer Taji dari pasukan koalisi pimpinan AS kepada pasukan keamanan Irak di pangkalan itu, di utara Baghdad, Irak. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Total prajurit Amerika Serikat (AS) yang mengalami luka-luka sepanjang konflik dengan Iran melonjak menjadi 757 orang, demikian terungkap dari analisis data terbaru Departemen Pertahanan AS (Pentagon) pada Kamis (20/8).

Berdasarkan data per 19 Agustus, sebanyak 418 tentara terluka selama Operasi Epic Fury yang berakhir pada 5 Mei. Sementara itu, 339 prajurit lainnya terluka sejak 7 Juli lalu saat AS melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran, yang mendongkrak akumulasi korban luka menjadi 757 orang.

Di saat yang sama, data Pentagon mencatat angka kematian tentara AS bertahan di angka 18 jiwa: 14 prajurit gugur selama Operasi Epic Fury dan empat tentara lainnya tewas dalam gelombang konflik sejak 7 Juli.

Laporan CNN mengutip pejabat AS menyebutkan bahwa pemerintah AS telah menginformasikan kepada sekutu politiknya mengenai pergeseran strategi militer.

Washington kini memilih strategi "mencekik" Iran secara ekonomi secara bertahap ketimbang melanjutkan operasi militer langsung seperti sebelumnya.

Para pejabat mengonfirmasi paket sanksi baru terhadap Iran bakal dirilis pekan ini, sementara blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap diberlakukan.

Sebelumnya pada 18 Juni dini hari, Iran dan AS sempat menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang meletus sejak 28 Februari. Namun pada 8 Juli, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata tidak lagi berlaku, dan pasukan AS sejak saat itu melancarkan serangkaian serangan balasan ke Iran.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim serangan tersebut merupakan respons atas aksi militer Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, yang kemudian dibalas pasukan Iran dengan menggempur pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Pada 12 Juli, Iran resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga berhentinya campur tangan AS di kawasan tersebut menyusul aksi saling serang antar kedua belah pihak.

Sehari setelahnya, Trump menegaskan AS bakal bertindak sebagai "pelindung" Selat Hormuz dan menerapkan kembali blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran.

Pada Kamis, Presiden Donald Trump menyebut operasi ekonomi terhadap Iran tersebut sebagai bentuk "isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya."

Ia turut mendesak para sekutu untuk bergabung bersama AS, seraya menggambarkan langkah penekanan ekonomi tersebut sebagai "Economic D-Day" yang serupa dengan pendaratan bersejarah sekutu di Normandia.

Sumber: Sputnik