Arsip foto - Dalam foto 28 Maret 2017 ini, Sahra Muse, 32, menghibur anaknya yang kekurangan gizi Ibrahim Ali, 7, di tempat penampungan sementara mereka di sebuah kamp di daerah Garasbaley di pinggiran Mogadishu, Somalia (Foto: AP/ voanews.com)
JAKARTA - Organisasi Dokter (Medecins Sans Frontieres/MSF) memperingatkan pada Selasa (11/8) bahwa separuh dari seluruh anak di lokasi pengungsian Somalia barat daya mengalami gizi buruk akut, dengan situasi yang makin diperparah oleh pemangkasan dana bantuan dan kekeringan panjang.
Pada Juni lalu, para pakar yang didukung PBB memperkirakan hampir sepertiga penduduk Somalia menghadapi krisis ketahanan pangan, di mana negara yang telah lama dihantam ketidakstabilan keamanan dan gejolak politik itu kini menerjang salah satu bencana kekeringan terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak Januari, lembaga medis internasional MSF telah memeriksa lebih dari 21.000 anak di bawah usia lima tahun di Baidoa dan menemukan "tingkat gizi buruk akut mencapai sekitar 50 persen."
Survei bulan Juli terhadap 888 rumah tangga di 14 lokasi pengungsian di Baidoa barat daya mengungkap fakta memprihatinkan, di mana hanya dua persen keluarga yang sanggup memenuhi kebutuhan makan tiga kali sehari.
"Bukan hal yang berlebihan ketika saya katakan bahwa darurat kemanusiaan yang parah tengah melanda Baidoa saat ini," tegas Koordinator Medis MSF, Mitchell Sangma, dalam konferensi pers di ibu kota Kenya, Nairobi.
"Kami menyaksikan lonjakan mengkhawatirkan pada jumlah anak gizi buruk yang dirawat sejak Januari," ujarnya, seraya menambahkan bahwa kapasitas fasilitas medis mereka telah diperluas dari 50 tempat tidur menjadi 120 tempat tidur pada Juni.
Saat mengunjungi Baidoa awal tahun ini, ia menggambarkan kondisi di lapangan di mana "ruang IGD, bangsal anak, bangsal nutrisi, bahkan sebagian bangsal bedah dan bersalin kami dipenuhi oleh anak-anak yang menderita gizi buruk."
Ia menyebutkan 90 persen anak-anak datang dengan komplikasi medis yang berat, di mana LSM tersebut mencatat "kasus kematian yang seharusnya dapat dicegah terus terjadi di rumah sakit kami."
MSF menekankan bahwa pemangkasan dana bantuan global kian memperburuk krisis.
"Rencana respons kemanusiaan Somalia telah dipangkas sebesar 40 persen pada tahun 2026 dan dana yang terealisasi masih kurang dari sepertiga hingga bulan Juli," tulis pernyataan resmi lembaga nirlaba tersebut.
Dampaknya, menurut Sangma, MSF dan lembaga non-pemerintah lainnya terpaksa memprioritaskan program penyelamatan nyawa ketimbang program pencegahan. Kondisi ini memicu "lingkaran setan" di mana para pasien berulang kali harus kembali dirawat di fasilitas kesehatan.
Rekan sejawatnya, epidemiolog Chenoa Sankar, mengonfirmasi bahwa tingkat rawat inap ulang pada program-program yang didukung MSF telah menembus angka 60 persen.
"Para ibu sangat putus asa ketika kami ajak bicara, karena hampir bisa dipastikan anak mereka bakal kembali dirawat pada satu titik, dan sangat sedikit hal yang bisa mereka lakukan untuk mengendalikan kondisi tersebut," tutur Sankar.
PBB mencatat bahwa dalam tiga bulan pertama tahun 2026, lebih dari setengah juta warga Somalia terpaksa mengungsi, di mana sembilan dari 10 kasus pengungsian dipicu oleh bencana kekeringan.
Somalia masuk dalam jajaran negara paling rentan di dunia terhadap perubahan iklim, yang menurut para ilmuwan memicu kemunculan cuaca ekstrem seperti kekeringan dengan frekuensi dan intensitas yang kian menghebat.
Negara di Tanduk Afrika tersebut juga menghadapi ancaman keamanan yang kian meruncing seiring tersendatnya kucuran dana internasional, yang berdampak langsung pada pertempuran panjang melawan kelompok teroris Al-Shabab.
Sumber: Arabnews