Militer Mali mengatakan pasukannya melakukan `balasan yang gencar `dan kini telah `mengendalikan` situasi tersebut. (AFP)
Jakarta, Jurnas.com - Sedikitnya 10 prajurit tewas pada Minggu (9/8) dalam serangan terhadap pangkalan militer di wilayah tengah Mali yang diklaim oleh kelompok JNIM, menurut keterangan sumber keamanan dan warga lokal.
Pangkalan militer yang terletak di Desa San tersebut sempat "diduduki sementara oleh para penyerang," ujar seorang sumber keamanan kepada AFP, sembari melaporkan jumlah korban tewas sementara "sekitar 10 tentara."
Warga setempat menggambarkan terjadinya bentrokan sengit pada dini hari.
"Saya dapat mengonfirmasi bahwa itu adalah serangan teroris. Kami mendengar ledakan keras dan kontak tembak yang terjadi terus-menerus," kata seorang warga San yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa "situasi kini telah kembali tenang."
Kelompok Pendukung Islam dan Muslim (Group for the Support of Islam and Muslims atau JNIM), yang bertaut dengan Al-Qaeda, mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut. Dalam pernyataannya, mereka mengklaim telah "mengambil kendali penuh atas barak tentara Mali di Kota San, Wilayah Segou, pagi ini."
Pihak militer Mali menyatakan pasukannya telah melancarkan "serangan balasan yang sengit" dan menegaskan bahwa situasi saat ini sudah "berada di bawah kendali."
Mali dicengkeram krisis keamanan parah sejak 2012, diwarnai serangan beruntun oleh kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaeda dan Daesh (ISIS), serta kelompok kriminal lokal dan gerakan kemerdekaan Tuareg.
Sejak dua kudeta beruntun pada 2020 dan 2021, Mali dipimpin oleh rezim militer yang naik ke tampuk kekuasaan dengan janji memulihkan keamanan, meski hingga kini belum membuahkan hasil.
Pertempuran kian membara dalam beberapa bulan terakhir menyusul serangan berskala besar pada akhir April lalu oleh aliansi JNIM dan gerakan separatis Tuareg Front Pembebasan Azawad (FLA). Dalam serangan tersebut, Menteri Pertahanan Mali tewas dan kota strategis Kidal di utara berhasil dikuasai pemberontak, menjadi pukulan telak bagi junta militer.
Sebelumnya pada 18 Juli, sedikitnya 50 prajurit tewas di Mali utara ketika konvoi militer diserang oleh aliansi JNIM dan FLA.
Sumber: Arabnews