• Oase

Islam Ingatkan Bahaya Utang Konsumtif, Bisa Rusak Keharmonisan Rumah Tangga

Agus Mughni Muttaqin | Kamis, 18/06/2026 23:04 WIB
Islam Ingatkan Bahaya Utang Konsumtif, Bisa Rusak Keharmonisan Rumah Tangga Ilustrasi - Merenung, berupaya menghindari utang konsumtif (Foto: Pexels/Antoni Shkraba)

JAKARTA - Gaya hidup modern yang serba cepat dan penuh tuntutan sosial, serta sihir kapitalisme kerap kali membuat sebagian masyarakat semakin mudah terjebak dalam perilaku konsumtif hingga terus merasa kekurangan.

Tidak sedikit keluarga yang rela berutang demi memenuhi keinginan sekunder, mulai dari gaya hidup, barang mewah, hingga kebutuhan yang sebenarnya dapat dikategorikan tidak mendesak.

Padahal dalam pandangan Islam, utang konsumtif yang tidak dibutuhkan (kebutuhan roduktif) dapat membawa dampak buruk, baik secara finansial maupun spiritual. Terlebih jika dilakukan secara berulang dengan skema gali lubang tutup lubang.

Fenomena berutang demi menjaga gengsi sosial nampaknya kini semakin sering ditemukan di tengah masyarakat. Kebiasaan tersebut kerap membuat seseorang mengabaikan kemampuan finansial yang dimiliki dan memaksakan diri memenuhi gaya hidup tertentu.

Akibatnya, utang yang awalnya dianggap sebagai solusi sementara justru berubah menjadi bom waktu atau beban jangka panjang yang mengancam stabilitas keuangan keluarga. Dalam banyak kasus, tekanan ekonomi akibat utang bahkan berujung pada konflik rumah tangga yang rapuh.

Islam memandang utang sebagai perkara berat yang tidak boleh disepelekan oleh setiap individu beriman.

Kitab suci Al-Qur`an secara tegas mengingatkan manusia untuk tidak bersikap boros dalam membelanjakan harta.

Larangan mengenai perilaku mubazir dan konsumtif ini termaktub di antaranya dalam Al-Qur`an Surah Al-Isra ayat 27.

"Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra [17]: 27).

Rasulullah SAW juga senantiasa berdoa agar terhindar dari lilitan utang yang mendatangkan kesedihan.

Aisyah RA mengabarkan bahwa Rasulullah SAW kerap berdoa dalam shalat: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan terlilit utang." (HR. Bukhari).

Ketika ditanya mengapa beliau sering memohon perlindungan dari utang, Rasulullah SAW menjelaskan dampak buruknya bagi moralitas seseorang.

Beliau bersabda: "Sesungguhnya seseorang apabila berutang, jika berbicara ia berdusta dan jika berjanji ia mengingkari." (HR. Bukhari).

Sementara itu, beberapa ulama berpendapat bahwa perlindungan Rasulullah SAW dalam konteks tersebut ialah bukan ditujukan pada utang yang dapat dibayar, melainkan utang yang tidak ditunaikan atau ketika debitur enggan untuk membayarnya.

Artinya, peringatan tersebut ditujukkan di antaranya bagi pengutang yang enggan menunaikan kewajiban membayar utangnya, dan ia rentan berdusta serta mengingkari janji. Doa tersebut di antaranya untuk meminta perlindungan agar dijauhkan dari hubungan berutang yang buruk.

Di sisi lain, secara psikologis, utang konsumtif yang menumpuk akan merenggut ketenangan batin seluruh anggota keluarga Anda.

Rasa cemas akibat kejaran tagihan bulanan sering kali memicu pertengkaran hebat antara suami dan istri.

Banyak keharmonisan rumah tangga yang akhirnya hancur berantakan akibat beban finansial yang di luar batas kemampuan.

Oleh karena itu, mengontrol syahwat belanja dan hidup qanaah adalah benteng utama pertahanan keluarga.

Mari bersama-sama menata kembali keuangan keluarga demi mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. (*)

Wallahu`alam