Seorang demonstran mengibarkan bendera merah putih (Foto: Unsplash/andrie chassidy)
JAKARTA - Perdebatan mengenai hubungan antara keagamaan dan semangat kebangsaan (nasionalisme) kerap kali menjadi topik yang hangat diperbincangkan.
Sebagian orang menganggap bahwa rasa cinta terhadap negeri tanah kelahiran adalah hal yang bersifat sekuler.
Padahal, jika ditelusuri lebih dalam melalui ikhtiar ulama dan dalil-dalil Al-Qur`an serta Hadis, cinta tanah air (Hubbul Wathan) memiliki kedudukan yang sangat mulia dan berakar kuat dalam ajaran Islam.
Dilansir dari laman MUI, Nabi Muhammad SAW. sendiri, dalam beberapa hadits, terekam dengan cukup detail sangat mencintai tanah kelahirannya, Tanah Airnya, kota Makkah.
Misalnya hadits riwayat Imam Tirmidzi :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَّةَ : ” مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ، وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ “
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata, “‘Rasulullah SAW. bersabda kepada kota Makkah, ‘Sungguh dirimu (kota Makkah) negeri yang amat indah, dan paling aku cintai, jikalau masyarakat Makkah tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan tinggal di tempat lain selain dirimu (kota Makkah)`” (HR. Tirmidzi no. 3926)
Tidak hanya kecintaan Nabi terhadap kota Makkah, Nabi juga sangat mencintai kota Madinah. Tempat di mana dakwah Nabi terbilang sangat sukses. Nabi tinggal di kota ini sekitar 10 tahun, kota ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir Nabi SAW.
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ، وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا.
Dari Anas ra. berkata; Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila pulang dari bepergian dan melihat dataran tinggi kota Madinah, Beliau mempercepat jalan unta Beliau dan bila menunggang hewan lain Beliau memacunya karena kecintaannya (kepada Madinah). (H.R. Bukhari no. 1886)