Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Indra Iskandar (foto:Tribunnews)
JAKARTA - Semangat mendekatkan parlemen dengan generasi muda terasa kuat dalam gelaran Parlemen Kampus 2026 di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah, pada 5–6 Mei 2026.
Program yang digelar Sekretariat Jenderal DPR RI bersama kalangan akademisi itu menghadirkan ruang diskusi sekaligus pengalaman langsung bagi mahasiswa memahami dinamika kerja parlemen.
Mulai dari proses legislasi, pengawasan, hingga penyusunan kebijakan publik, mahasiswa diajak melihat bagaimana DPR RI bekerja dalam merespons berbagai persoalan masyarakat.
Sekretaris Jenderal DPR RI Indra Iskandar menegaskan Parlemen Kampus bukan sekadar agenda seremonial, melainkan upaya membangun ruang dialog antara parlemen dan generasi muda.
“Parlemen Kampus ini bukan sekadar seremonial, tetapi bagaimana DPR RI hadir di kampus untuk membangun ruang dialog dan meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap kerja parlemen,” ujar Indra saat membuka kegiatan di Kampus UNS, Surakarta, Selasa (5/5).
Antusiasme mahasiswa terlihat sejak hari pertama. Ratusan peserta dari berbagai fakultas mengikuti diskusi kebangsaan hingga simulasi sidang parlemen. Dalam forum tersebut, mahasiswa diajak memahami bagaimana aspirasi masyarakat diterjemahkan menjadi kebijakan negara.
Salah satu pemateri menekankan pentingnya literasi politik di kalangan anak muda. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh menjauh dari politik karena kebijakan publik sangat menentukan masa depan bangsa.
“Mahasiswa jangan alergi terhadap politik. Politik itu menentukan arah kebijakan publik dan masa depan bangsa,” ujarnya.
Pembahasan semakin dinamis ketika isu lingkungan dan pengelolaan sampah menjadi salah satu topik utama. Anggota Komisi VII DPR RI Eddy Soeparno menilai persoalan sampah membutuhkan keterlibatan lintas generasi, termasuk mahasiswa dan komunitas muda.
“Krisis sampah tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Harus ada kolaborasi dengan generasi muda yang punya kreativitas dan inovasi,” kata Eddy dalam forum dialog bersama mahasiswa.
Politikus PAN itu menilai mahasiswa memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran lingkungan di tengah masyarakat. Menurutnya, perubahan perilaku publik terhadap pengelolaan sampah harus dimulai melalui edukasi dan gerakan kolektif yang melibatkan kampus.
“Mahasiswa harus menjadi agen perubahan, termasuk dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih baik,” tegasnya.
Dalam sesi lain, persoalan kesenjangan kebijakan pusat dan daerah dalam pengelolaan sampah juga menjadi sorotan. Wakil Ketua Komisi II DPR RI Aria Bima mengatakan implementasi regulasi di daerah masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga lemahnya sinkronisasi kebijakan.
“Kadang kebijakan di pusat sudah baik, tetapi implementasinya di daerah belum maksimal karena keterbatasan anggaran dan koordinasi,” ujar Aria.
Selain diskusi, mahasiswa juga mengikuti simulasi sidang dan penyusunan rekomendasi kebijakan. Dalam simulasi itu, peserta dibagi ke dalam kelompok fraksi dan komisi untuk membahas isu-isu aktual. Mereka merasakan langsung proses perdebatan, lobi politik, hingga pengambilan keputusan di parlemen.
Banyak mahasiswa mengaku baru memahami bahwa proses legislasi membutuhkan pembahasan panjang dan harus mempertimbangkan berbagai kepentingan masyarakat.
DPR RI juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan dunia akademik agar kebijakan yang dihasilkan lebih berbasis riset dan kebutuhan publik. Indra Iskandar menyebut kampus memiliki peran strategis sebagai mitra parlemen dalam melahirkan gagasan kebijakan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Kampus punya kekuatan intelektual dan riset yang sangat penting untuk mendukung lahirnya kebijakan yang berkualitas,” katanya.
Menjelang penutupan acara, suasana diskusi tetap hangat. Mahasiswa menyampaikan bahwa Parlemen Kampus memberi pengalaman baru mengenai dunia politik yang selama ini dianggap jauh dari kehidupan kampus. Mereka merasa lebih memahami cara kerja DPR RI sekaligus menyadari bahwa aspirasi generasi muda memiliki ruang dalam proses demokrasi.
Parlemen Kampus 2026 di UNS resmi ditutup Kepala Biro Protokol dan Humas DPR RI Rudi Rochmansyah dengan semangat kolaborasi antara DPR RI dan kalangan akademisi.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemahaman teoritis tentang parlemen, tetapi juga merasakan langsung dinamika kerja DPR RI sekaligus menyadari pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menentukan arah kebijakan dan masa depan bangsa,” ujar Rudi.