• News

Kementrans-Unpad Dorong Industrialisasi Ubi Jalar di Kawasan Transmigrasi

M. Habib Saifullah | Kamis, 23/04/2026 10:18 WIB
Kementrans-Unpad Dorong Industrialisasi Ubi Jalar di Kawasan Transmigrasi Menteri Transmigrasi (Mentrans) M.Iftitah Sulaiman Suryanagara (Foto: Humas Kementrans)

SUMEDANG – Kementerian Transmigrasi terus memperkuat langkah transformasi transmigrasi melalui pengembangan komoditas unggulan berbasis kawasan. Bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran (Unpad), Kementerian Transmigrasi mendorong pengembangan ubi jalar tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga hingga pengolahan menjadi produk bernilai tambah melalui proses industrialisasi.

Langkah ini merupakan bagian dari implementasi arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan dan berdampak langsung bagi masyarakat. Melalui kolaborasi ini, diharapkan terbuka peluang usaha baru, peningkatan pendapatan, serta penguatan ekonomi di kawasan transmigrasi.

Kementerian Transmigrasi memiliki kekuatan pada lahan dan tenaga kerja transmigran. Namun, kami masih membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di sinilah peran Unpad sebagai perguruan tinggi yang berdampak bagi masyarakat menjadi sangat penting,” kata Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam kunjungannya ke Universitas Padjajaran, Jatinangor, Rabu (22/4).

Menteri Iftitah menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem yang utuh, mulai dari riset, produksi, investasi, hingga pasar. Kolaborasi ini menjawab kebutuhan nyata di kawasan transmigrasi.

“Kami akan menghubungkan kekuatan lahan transmigrasi, tenaga kerja, teknologi dari kampus, dukungan investasi, hingga kepastian pasar atau off-taker. Jika semua ini terintegrasi, hasilnya akan maksimal dan menguntungkan semua pihak, terutama masyarakat,” ujarnya.

Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita menyampaikan Unpad saat ini tengah mengembangkan pusat riset dan inovasi ubi jalar yang diharapkan menjadi rujukan nasional.

“Hari ini kami mengembangkan pusat ubi jalar di Unpad yang diharapkan tidak hanya bermanfaat untuk Jawa Barat, tetapi juga untuk skala nasional. Kami juga akan berkolaborasi dengan Kementerian Transmigrasi, khususnya dengan masyarakat di kawasan transmigrasi, mulai dari pembibitan hingga pengembangan di lapangan,” ujarnya.

Prof Arief menambahkan bahwa penguatan riset bibit unggul dan pengembangan skala industri menjadi kunci agar komoditas ini dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Selama ini kami sudah memiliki kebun percontohan dan membina petani, namun skalanya masih terbatas. Dengan dukungan Kementerian Transmigrasi, kami optimistis pengembangan ini bisa diperluas dan memberikan manfaat lebih besar,” tambahnya.

Menurutnya Prof Arief, potensi ubi jalar sangat besar, namun kualitas ekspor saat ini masih terbatas. “Dari total produksi, baru sekitar 15 persen yang memenuhi standar ekspor, padahal permintaan dari negara seperti Jepang dan Korea Selatan sangat tinggi. Dengan dukungan riset dan teknologi, kita targetkan bisa meningkat hingga 50 persen,” ungkapnya.

Prof Arief juga menugaskan produksi yang tidak masuk kategori ekspor akan diarahkan untuk hilirisasi. “Sisanya bisa diolah menjadi berbagai produk, seperti tepung atau bahan pangan lain yang bernilai tambah. Ini yang akan kita dorong melalui industrialisasi,” tambahnya.

Kolaborasi ini sejalan dengan konsep PRAISE (Padjadjaran Center for Sweet Potato Research and Innovation Excellence) yang mengusung semangat serupa dengan Centre of Excellence Patriot, yaitu membangun ekosistem inovasi dari hulu hingga hilir secara berkelanjutan.

Melalui sinergi antara Kementerian Transmigrasi dan Unpad, pengembangan ubi jalar diharapkan menjadi model baru dalam Transformasi Transmigrasi, yang tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat, sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.