• News

Kondisi SLBN Pahlawan Indramayu Kini Lebih Baik Berkat Revitalisasi

Vaza Diva | Kamis, 23/04/2026 08:08 WIB
Kondisi SLBN Pahlawan Indramayu Kini Lebih Baik Berkat Revitalisasi Suasana belajar mengajar di SLBN Pahlawan Indramayu setelah direvitalisasi melalui program Kemendikdasmen (Foto: Humas Kemendikdasmen)

INDRAMAYU - Program Revitalisasi Satuan Pendidikan terus menunjukkan dampak nyata di berbagai daerah, salah satunya di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Di SLBN Pahlawan Indramayu, program ini tidak hanya memperbaiki bangunan sekolah, tetapi juga mengubah suasana belajar menjadi lebih menyenangkan sehingga meningkatkan partisipasi belajar murid.

Revitalisasi di SLBN Pahlawan Indramayu mencakup rehabilitasi 12 ruang kelas dan satu unit toilet, lengkap dengan pengadaan perabot seperti meja dan kursi murid, meja dan kursi guru, serta lemari penyimpanan di setiap kelas.

Yulius, guru yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) tahun 2025, menuturkan bahwa kondisi sekolah sebelum direvitalisasi cukup memprihatinkan.

Sebagian bangunan yang berdiri sejak 1989 mengalami kerusakan serius, bahkan bagian gedung ada yang roboh. Untung saja, saat itu jam istirahat.

"Mulai dari tembok yang keropos, bau ruangan tidak nyaman, hingga debu yang bertebaran karena beton sudah lapuk. Itu sangat mengganggu proses belajar," kata Yulius.

Kini, kondisi tersebut berubah drastis. Bangunan sekolah tidak hanya diperbaiki, tetapi juga disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan dan peserta didik.

Atap ditinggikan untuk mengurangi panas, struktur bangunan diperkuat, serta aksesibilitas ditingkatkan agar ramah bagi pengguna kursi roda. Bagian belakang sekolah juga ditinggikan untuk mengantisipasi banjir yang sebelumnya sempat menyebabkan kegiatan belajar terhenti.

"Sekarang sekolah ini sudah sangat berubah. Lebih nyaman, lebih aman, dan lebih sesuai untuk anak-anak," ucap Yulius senang.

Sementara itu, Kepala SLB Negeri Pahlawan Indramayu, Wawan Darsa, menjelaskan bahwa proses revitalisasi juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pengerjaan dilakukan dengan melibatkan tenaga kerja lokal sebagai prioritas utama.

"Untuk tenaga kerja, kami menggunakan pekerja lokal, meskipun beberapa tukang kami didatangkan dari Cirebon karena kebutuhan pekerja yang cukup banyak. Total ada 28 orang tukang yang terlibat," ujar dia.

Proses pengerjaan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu, dimulai sejak pertengahan Agustus 2025. Menurut Wawan, pendekatan ini sejalan dengan semangat program revitalisasi yang tidak hanya membangun fisik sekolah, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar.

Dampak revitalisasi juga terasa langsung pada peserta didik. Jika sebelumnya pihak sekolah harus aktif melakukan kunjungan ke rumah murid karena tingkat kehadiran yang rendah, kini kondisi tersebut berubah signifikan.

"Sekarang hampir semua murid hadir ke sekolah. Hanya yang jaraknya jauh saja yang sesekali kami kunjungi," ujar Wawan.

Perubahan perilaku murid juga terlihat dari meningkatnya kepedulian terhadap lingkungan sekolah. Dinding yang dahulu penuh coretan kini terjaga kebersihannya, dan murid mulai menunjukkan rasa memiliki terhadap fasilitas yang ada.

Revitalisasi di SLBN Pahlawan Indramayu menjadi bukti bahwa Revitalisasi Satuan Pendidikan tidak hanya menghadirkan bangunan baru, tetapi juga menghidupkan kembali semangat belajar, meningkatkan partisipasi siswa, serta memperkuat hubungan antara sekolah dan masyarakat.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa program Revitalisasi Satuan Pendidikan merupakan langkah strategis pemerintah dalam menghadirkan layanan pendidikan yang layak, inklusif, dan bermutu bagi seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus.

Menurutnya, program ini bukan hanya upaya untuk membangun atau memperbaiki fisik sekolah, melainkan untuk menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berkeadilan bagi setiap peserta didik di Indonesia.

"Ketika anak merasa nyaman, mereka akan lebih termotivasi untuk hadir dan belajar," ujarnya.

Tatang juga menyampaikan bahwa dampak revitalisasi dapat dilihat secara menyeluruh, tidak hanya pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga pada peningkatan partisipasi dan perilaku belajar siswa.

"Ketika lingkungan belajar tambah baik dan nyaman, kehadiran siswa meningkat, interaksi belajar menjadi lebih positif, dan tumbuh rasa memiliki terhadap sekolah. Ini menjadi indikator penting bahwa revitalisasi berjalan sesuai dengan tujuan besarnya, yaitu menguatkan ekosistem pendidikan," katanya.