Asap mengepul dari lokasi serangan udara Israel yang menargetkan wilayah di kota Nabatieh, Lebanon selatan, pada 11 April 2026 (Foto: Abbas Fakih/AFP)
JAKARTA - Lebanon berupaya mencapai gencatan senjata permanen dengan Israel melalui negosiasi untuk memulihkan stabilitas, kata Menteri Luar Negeri Youssef Raggi pada Jumat (17/4/2026).
Gencatan senjata yang langgeng juga ditujukan untuk menjamin keamanan penarikan pasukan Israel, memperluas otoritas Lebanon di seluruh wilayahnya, serta kendali eksklusif atas senjata oleh negara, ujar Raggi dalam pertemuan dengan Menlu Portugal Paulo Rangel di Beirut.
Ia juga menekankan perlunya dukungan internasional yang berkelanjutan, khususnya dari negara-negara Eropa, agar tentara Lebanon dapat memperkuat kemampuannya dan menjaga keamanan serta stabilitas.
Rangel menegaskan dukungan penuh Portugal untuk kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon serta menyambut baik gencatan senjata serta jalur negosiasi yang akan ditempuh Beirut.
Menurut dia, proses tersebut merupakan kesempatan untuk mencapai solusi komprehensif dan berkelanjutan guna meningkatkan stabilitas dan mengakhiri konflik.
Pada Kamis (16/4), Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel.
Lebih dari 2.196 korban tewas dan 7.185 orang luka-luka selama 45 hari serangan Israel di Lebanon, dengan lebih dari sejuta orang mengungsi, menurut angka resmi pemerintah.
Israel melancarkan perang terhadap Lebanon pada Oktober 2023, dan gencatan senjata diumumkan pada November tahun berikutnya, tetapi Israel terus melanggarnya setiap hari sebelum memperluas serangannya pada 2 Maret.
Tidak hanya menyerang, Israel juga menduduki sebagian wilayah Lebanon selatan.