• Oase

Megengan, Tradisi Kenduri Masyarakat Jawa Jelang Ramadan

M. Habib Saifullah | Kamis, 29/01/2026 21:05 WIB
Megengan, Tradisi Kenduri Masyarakat Jawa Jelang Ramadan Tradisi Megengan (Foto: ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

JAKARTA - Tradisi megengan masih dijumpai di berbagai daerah di Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur, sebagai praktik budaya-keagamaan menjelang Ramadan. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada penghujung bulan Syaban dan berfungsi sebagai penanda sosial dimulainya bulan puasa.

Secara praktik, megengan biasanya diwujudkan melalui kenduri atau selamatan, doa bersama, serta pembagian makanan kepada tetangga dan kerabat. Meski sering dikaitkan dengan aktivitas keagamaan, megengan lebih tepat dipahami sebagai tradisi sosial yang tumbuh dari perjumpaan antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal masyarakat Jawa.

Istilah megengan diyakini berasal dari kata Jawa “megeng” yang berarti menahan. Makna ini selaras dengan semangat Ramadan, yakni menahan diri dari hawa nafsu dan perbuatan yang tidak baik. Penamaan tersebut tidak lahir dari teks keagamaan formal, melainkan dari pemaknaan budaya yang berkembang di tengah masyarakat.

Dari sisi sejarah, megengan tidak memiliki catatan kelahiran yang pasti. Tradisi ini diperkirakan berkembang seiring proses islamisasi di Jawa, ketika ajaran Islam menyatu dengan kebiasaan masyarakat yang sebelumnya telah mengenal tradisi selamatan dan jamuan komunal. Dalam konteks ini, megengan menjadi bentuk adaptasi budaya yang memudahkan nilai-nilai Islam diterima tanpa menanggalkan identitas lokal.

Pelaksanaan megengan di setiap daerah bisa berbeda. Di sebagian wilayah, tradisi ini diawali dengan ziarah makam keluarga, lalu dilanjutkan dengan doa dan kenduri di rumah atau musala. Di tempat lain, megengan cukup dilakukan dengan mengirim makanan kepada tetangga sebagai simbol kebersamaan dan saling mendoakan.

Salah satu ciri yang sering melekat pada megengan adalah kehadiran kue apem. Kue tradisional ini hampir selalu muncul dalam rangkaian megengan dan berfungsi sebagai simbol yang mudah dikenali masyarakat. Terlepas dari beragam tafsir makna apem, secara sosial kue ini telah menjadi identitas kultural megengan.

Dari perspektif sosial, megengan memiliki fungsi yang jelas. Tradisi ini memperkuat hubungan antarwarga, memperbarui komunikasi sosial, serta menciptakan ruang kebersamaan sebelum masyarakat memasuki Ramadan yang cenderung lebih individual dalam ritme ibadahnya.

Megengan juga berperan sebagai penanda waktu dalam kalender budaya, bahwa fase baru dalam kehidupan keagamaan akan segera dimulai.