Ilustrasi para pekerja perkebunan pisang di Kolombia (Foto: Nawacita)
JAKARTA - Pembantaian Pisang di Kolombia atau yang dikenal juga sebagai "Masacre de las Bananeras", ialah salah satu peristiwa kelam dalam sejarah Amerika Latin.
Tragedi ini terjadi pada 6 Desember 1928 di Ciénaga, sebuah kota kecil di Kolombia, dan melibatkan pembunuhan brutal terhadap ratusan pekerja perkebunan pisang oleh militer Kolombia.
Peristiwa ini bermula dari perselisihan antara pekerja perkebunan pisang dan United Fruit Company (UFC), sebuah perusahaan multinasional asal Amerika Serikat yang menguasai industri pisang di wilayah tersebut. Pekerja menuntut kondisi kerja yang lebih baik, termasuk:
Namun, tuntutan ini tidak ditanggapi oleh perusahaan. Ketegangan meningkat ketika para pekerja memulai aksi mogok yang melibatkan ribuan buruh di seluruh wilayah Magdalena.
Pemerintah Kolombia, yang berada di bawah tekanan dari United Fruit Company dan diduga dipengaruhi oleh kepentingan pemerintah Amerika Serikat, memutuskan untuk mengirim militer untuk membubarkan para demonstran. Pada malam 6 Desember 1928, ribuan pekerja dan keluarga mereka berkumpul di alun-alun utama Ciénaga.
Tentara Kolombia, yang dipimpin oleh Jenderal Carlos Cortés Vargas, mengepung area tersebut. Dalam tindakan represif, tentara menembaki kerumunan tanpa peringatan. Banyak pria, wanita, dan anak-anak tewas dalam serangan ini.
Jumlah pasti korban jiwa dalam pembantaian ini masih menjadi perdebatan hingga hari ini. Sumber resmi pemerintah Kolombia pada waktu itu hanya mencatat 47 orang tewas, tetapi saksi mata dan peneliti memperkirakan angka sebenarnya mencapai ratusan hingga ribuan korban. Banyak tubuh korban dilaporkan dibuang ke laut atau dikubur massal untuk menutupi skala tragedi tersebut.
Tragedi ini memicu kemarahan di seluruh Kolombia dan Amerika Latin. Peristiwa ini menjadi simbol eksploitasi buruh oleh perusahaan multinasional dan ketundukan pemerintah pada tekanan ekonomi asing. Selain itu: