• Info MPR

Bamsoet Dukung Gelaran JPNSC 2024

Agus Mughni Muttaqin | Rabu, 10/07/2024 18:50 WIB
Bamsoet Dukung Gelaran JPNSC 2024 Ketua MPR Bambang Soesatyo alias Bamsoet (tengah) menerima penyelenggara JPNSC 2024, di Jakarta, Rabu (Foto: Humas MPR)

JAKARTA - Ketua MPR Bambang Soesatyo alias Bamsoet mendukung rencana penyelenggaraan Jakarta Pain Intervention Neuromodulation and Sonologist International Conference 2024 (JPNSC 2024) pada 21 Juli 2024 di Ballroom Artikular Klinik, Jakarta.

JPNSC 2024 menghadirkan para pembicara internasional dari Turki, Qatar, Mesir, Arab Saudi, Inggris, Pakistan dan Malaysia, sebagai pertemuan rutin untuk membahas berbagai inovasi medis dalam penanganan nyeri yang berbasis evidence dan menyelesaikan sumber penyebab nyeri.

"Konferensi ini bisa memberikan pemahaman kepada para tenaga kesehatan tentang manajemen nyeri sebagai hal dasar yang perlu diketahui guna menyongsong Indonesia bebas nyeri tahun 2045. Sekaligus mendorong Indonesia sebagai pusat tatalaksana pengobatan nyeri terbaik se-Asia Tenggara," ujar Bamsoet usai menerima penyelenggara JPNSC 2024, di Jakarta, Rabu (10/7/24).

Ia menjelaskan, rangkaian JPNSC 2024 sudah dilakukan di Kota Bandung beberapa waktu lalu, berkolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Konferensi ini menghadirkan dua pembicara dari Korea Selatan, yakni Presiden Korean Pain Society dari Seoul National University College of Medicine Prof Lee Pyoung Bok, dan Author Spinal Epidural Ballon Decompression and Adhesiolysis Prof Jin Woo Shin, yang membahas soal inovasi Spinal Ballooning.

"Nyeri merupakan salah satu keluhan umum pasien. Secara global, World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 20 persen orang dewasa mengalami nyeri kronis, dengan peningkatan 10-20 persen setiap tahunnya," ujar Bamsoet.

"Data WHO juga menunjukkan bahwa nyeri kronis dapat mengganggu produktivitas pasien, mempengaruhi kesejahteraan individu secara fisik dan emosional, dan pada akhirnya memiliki dampak ekonomi dan sosial yang signifikan bagi masyarakat," sambungnya.

Bamsoet menerangkan, ironisnya hingga saat ini nyeri masih menjadi masalah kesehatan yang masih sering terabaikan. Kurangnya kesadaran dan ketrampilan pengelolaan nyeri secara holistik yang berorientasi pada pasien menjadi salah satu hambatan terbesar dalam pengelolaan nyeri di Indonesia.

"Peningkatan kompetensi dan ketrampilan profesional kesehatan, terutama dokter yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan, menjadi sangat penting dalam meningkatkan kualitas layanan nyeri di Indonesia."

"Peningkatan kompetensi dan ketrampilan profesional kesehatan secara komprehensif, terstandar, dan tersertifikasi menjadi salah satu kunci untuk mencapai pengelolaan nyeri yang optimal, efisien, dan berkualitas," ujar Bamsoet.

FOLLOW US