
Ilustrasi. Tentara Myanmar ( foto: AFP)
Katakini.com - Pejuang perlawanan lokal mengklaim bertanggung jawab membunuh seorang pria yang dituduh membantu militer Myanmar melakukan serangan mematikan terhadap kamp protes anti-rezim di Bago, April silam.
Berdasarkan keterangan saksi mata, Kyaw Kyaw atau dikenal juga sebagai Kyaw Soe Htut ditembak sebanyak dua kali di bagian perut dari jarak dekat pada Minggu pagi.
Menurut saksi mata tersebut, Kyaw Kyaw sedang mengendarai sepeda motor saat ditembak oleh dua orang yang juga menggunakan motor.
“Ini adalah langkah pertama kami membuat contoh dari orang-orang yang meneror warga sipil. Hal yang sama dapat dikatakan tentang pengeboman,” kata seorang anggota Angkatan Pertahanan Rakyat (PDF) lokal sebagaimana diberitakan Myanmar Now, Senin.
Sebelum pembunuhan tersebut, PDF cabang Bago meledakkan bom di kantor administrasi Kotapraja Hantharwaddy dan kantor listrik di Nyaung Wine.
Seorang staf dilaporkan terluka dari pengeboman di kantor listrik.
Menurut warga Bago, Kyaw Kyaw (50) pernah bertugas di militer dan menjadi administrator Kotapraja Shin Saw Pu, Bago, ketika partai yang didukung militer berkuasa.
Berdasarkan keterangan empat penduduk Bago lainnya, Kyaw Kyaw terlihat bersama para tentara saat pasukan junta menyerang kamp protes anti-rezim pada April silam.
Puluhan orang dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.
Anggota PDF mengungkapkan pihaknya menginvestigasi secara menyeluruh tuduhan terhadap seseorang yang bekerja dengan militer sebelum meluncurkan serangan.
PDF mengatakan mereka melakukan serangan terhadap seorang informan apabila telah yakin dengan informasi tersebut.
“Kami tidak pernah membunuh siapapun segera setelah kami mendapat informasi,” kata anggota PDF tersebut.
Myanmar Now melaporkan juru bicara junta tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar terkait pembunuhan Kyaw Kyaw.
Myanmar diguncang kudeta militer pada 1 Februari dengan menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi.
Militer berdalih pemilu yang mengantarkan Suu Kyi terpilih dengan suara terbanyak penuh kecurangan.
Hingga 5 Juli, kelompok masyarakat sipil melaporkan 892 korban tewas sejak kudeta militer di negara tersebut.(AA)
Jum'at, 10/04/2026