Persempit Ruang Bagi Intoleransi, Moeldoko Peringatkan Bahaya Laten Intoleransi dan Radikalisme

Asrul | Jum'at, 26/03/2021 19:37 WIB


Dia menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara dengan keberagaman harus mempersempit ruang bagi intoleransi dan paham-paham radikal. Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko (Foto: Ist)

Jakarta, katakini.com - Kepala Staf Kepresidenan sekaligus Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Terbuka (IKA-UT) Jenderal (Purn) Dr. H. Moeldoko memperingatkan bahaya laten intoleransi dan radikalisme.

Dia menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara dengan keberagaman harus mempersempit ruang bagi intoleransi dan paham-paham radikal.

"Bagaimana bangsa yang besar seperti ini, berbagai agama, suku, macam-macam, kita lama kelamaan menuju intoleransi. Tidak boleh ini dibiarkan. Ruang intoleransi harus kita persempit," tegas Moeldoko dalam perayaan HUT IKA UT ke-31 pada Jumat (26/4) di Kantor Pusat UT, Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

Upaya mempersempit ruang bagi intoleransi dan paham radikal, menurut Moeldoko, agar tidak menghambat pembangunan Indonesia menjadi bangsa yang maju.

Baca juga :
Berbagai Dampak Buruk Sering Begadang untuk Kesehatan Otak Anda

"Kita bicara 2045. Kita bicara bagaimana bangsa ini menuju 100 tahun kemerdekaan Indonesia, bukan memikirkan politik praktis setiap lima tahunan," ujar Moeldoko.

Baca juga :
Polda Banten Tindak Penyelewengan LPG Subsidi, Pertamina Patra Niaga Apresiasi

"Kita saat ini diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengarahkan negara ini lurus ke depan, tanpa dihambar oleh berbagai rintangan ideologis yang menghambat tujuan kita bernegara," sambung dia.

Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof. Ojat Darojat menekankan penguatan sumber daya manusia (SDM), dalam rangka menyambut 100 tahun kemerdekaan Indonesia.

Baca juga :
Profil dan Biografi Singkat 13 Tokoh Pendiri PMII

Namun penguatan SDM tersebut hanya akan tercipta apabila lembaga pendidikan tinggi memberikan layanan bagi masyarakat, tidak hanya di kota-kota besar melainkan juga daerah pinggiran yang selama ini tidak memiliki kesempatan mengakses pendidikan tinggi.

"Universitas Terbuka didirikan dengan tiga mandat utama, salah satunya pemerataan akses pendidikan tinggi bagi seluruh masyarakat. Nama kata terbuka merujuk pada dua hal penting, yaitu terbuka kepada orang, dan terbuka kepada tempat," kata Ojat.

Karena itu, lanjut Ojat, dengan hadirnya UT maka kini tidak alasan lagi bagi masyarakat untuk tidak melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

"Dengan adanya sinergi antara UT dan IKA-UT, semoga mandat ini bisa kita laksanakan secara lebih luas," tutup Ojat.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Moeldoko HUT IKA UT Ojat Darojat Intoleransi Radikalisme