
Pesawat Emirates
Katakini.com - Maskapai penerbangan Emirates tidak berdaya melawan dampak ekonomi dari pandemi virus corona (covid-19). Hal ini tecermin dari tindakan perusahaan yang kembali memangkas sepersepuluh tenaga kerja atau 9.000 pekerja dan berlanjut hingga 15%.
Pernyataan itu disampaikan oleh presiden perusahaan Tim Clark dalam sebuah laporan pada Sabtu (11/7/2020).
Sebelumnya, maskapai penerbangan terbesar di wilayah Timur Tengah sudah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih dari 105.000 pekerja pada akhir Maret lalu, menurut laporan Bloomberg News.
Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Clark mengatakan bahwa maskapai itu telah memotong sepersepuluh stafnya dan bahwa Emirates "mungkin harus melepaskan beberapa lagi, mungkin hingga 15%".
Clark menambahkan jika maskapai membutuhkan waktu hingga empat tahun untuk menormalkan kembali operasi perusahaan pasca terjadinya PHK besar-besaran.
Lebih lanjut, Clark mengatakan dalam wawancara itu bahwa Emirates "tidak seburuk yang lain" tetapi krisis itu melanda seperti "menuju salah satu tahun terbaik kami".
Sebelum krisis melanda, Emirates mempekerjakan sekitar 60.000 staf, termasuk 4.300 pilot dan hampir 22.000 awak kabin, menurut laporan tahunannya yang dikutip dari AFP.
Maskapai yang sempat mengoperasikan armada 270 pesawat besar ini juga sudah menghentikan operasi pada akhir Maret akibat aturan penutupan (lockdown) berbagai negara di tengah berlangsungnya pandemi virus corona (Covid-19).
Pesawat ini kembali beroperasi dua minggu kemudian dengan jaringan terbatas dan berencana untuk terbang ke 58 kota pada pertengahan Agustus.
Selasa, 21/04/2026