Legislator Sebut MBG Masih Dibutuhkan, Keamanan Pangan-Pengawasan Dapur Jadi Sorotan

Agus Mughni Muttaqin | Jum'at, 23/10/2026 23:15 WIB


Kalau di Jakarta mungkin ramai penolakan (MBG). Namun, ketika saya berkeliling ke daerah pemilihan dan berbagai provinsi, saya bertemu dengan siswa serta masyarakat yang justru membutuhkan MBG Anggota DPR RI Andre Rosiade Foto: dpr

JAKARTA - Anggota DPR RI Andre Rosiade menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih dibutuhkan masyarakat, terutama di daerah. Namun, ia meminta pemerintah memperketat pengawasan keamanan pangan, mengevaluasi pelaksanaan program, dan menindak dapur penyedia makanan yang melanggar standar operasional prosedur (SOP).

Andre menyampaikan pandangan tersebut dalam diskusi Dialektika Demokrasi di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (22/10/2026), saat membahas evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Andre, penolakan terhadap MBG yang ramai di Jakarta tidak sepenuhnya mencerminkan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah. Ia mengaku menemukan siswa dan orang tua yang justru berharap program tersebut dapat menjangkau mereka.

“Kalau di Jakarta mungkin ramai penolakan (MBG). Namun, ketika saya berkeliling ke daerah pemilihan dan berbagai provinsi, saya bertemu dengan siswa serta masyarakat yang justru membutuhkan MBG,” kata Politisi Fraksi Partai Gerindra ini.

Baca juga :
Peringatan Hari Polio Sedunia Setiap 24 Oktober, Ini Sejarah dan Maknanya

Andre menceritakan pengalamannya ketika mendampingi Presiden Prabowo meresmikan jembatan darurat di Sumatera Barat pada Desember 2025, setelah wilayah tersebut terdampak bencana alam. Saat itu, menurut Andre, sejumlah anak sekolah dasar menghampiri Presiden dan menyampaikan bahwa mereka belum menerima MBG serta berharap dapat memperoleh program tersebut.

Baca juga :
Mengap Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa Diperingati Setiap 24 Oktober?

Ia menilai pengalaman itu menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat di daerah perlu menjadi pertimbangan dalam mengevaluasi pelaksanaan dan keberlanjutan program. Andre juga menyebut masih terdapat sekolah dan orang tua di Sumatera Barat yang menantikan program tersebut.

Karena itu, ia berpandangan bahwa evaluasi MBG perlu mempertimbangkan pemerataan penerima manfaat sekaligus kualitas layanan yang diberikan.

Baca juga :
Ketika Harta Menjadi Ujian, Pelajaran dari Kisah Qarun

Meski mendukung keberlanjutan program, Andre mengakui pelaksanaannya masih memiliki kekurangan. Menurutnya, kekurangan tersebut harus dijadikan dasar untuk memperbaiki sistem penyelenggaraan, bukan diabaikan ataupun langsung dijadikan alasan untuk menghentikan program.

Andre secara khusus menyoroti kasus keracunan yang terjadi di sejumlah wilayah dalam pelaksanaan MBG. Ia menegaskan, insiden tersebut harus ditangani secara serius dan menjadi bahan evaluasi bagi Badan Gizi Nasional (BGN) serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan.

Menurutnya, pemerintah perlu memastikan setiap dapur penyedia makanan memenuhi standar kebersihan, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi pangan. Kepatuhan terhadap SOP harus menjadi perhatian utama untuk meminimalkan risiko yang dapat membahayakan penerima manfaat.

Andre juga menyinggung perlunya penindakan terhadap dapur penyedia MBG yang melanggar ketentuan operasional. Pengawasan, menurutnya, harus dilakukan secara konsisten agar setiap pelanggaran dapat diketahui dan segera ditindaklanjuti.

Ia mendukung pemanfaatan teknologi, termasuk kamera pengawas atau CCTV dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), untuk membantu memantau proses operasional dapur dan mendeteksi potensi pelanggaran.

“Kalau ada pelanggaran SOP, harus segera diketahui dan ditindaklanjuti. Keamanan makanan bagi anak-anak harus menjadi prioritas,” ujar Politisi Fraksi Partai Gerindra ini.

Andre menyebut jumlah penerima manfaat MBG telah mencapai sekitar 59 juta orang. Menurutnya, besarnya cakupan program tersebut perlu menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh, tanpa mengurangi keseriusan pemerintah dalam menangani setiap kasus keracunan.

Ia menilai pemerintah perlu terus meningkatkan kualitas pengolahan dan distribusi makanan agar manfaat program dapat diterima secara aman dan sesuai standar gizi.

Andre juga mengaitkan keberlanjutan MBG dengan tantangan pemenuhan gizi masyarakat. Ia mengutip angka prevalensi stunting nasional sebesar 19 persen dan Sumatera Barat sebesar 24 persen sebagai gambaran persoalan yang menurutnya masih perlu ditangani.

Menurutnya, program pemenuhan gizi harus dilaksanakan dengan perencanaan matang, pengawasan ketat, serta evaluasi berkala untuk memastikan tujuan program tercapai.

“Program ini harus terus diperbaiki. Kekurangan harus dibenahi, pengawasan harus diperketat, dan standar operasional harus dipatuhi agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Andre.

Andre berharap pemerintah dapat menjaga kesinambungan program MBG sekaligus meningkatkan kualitas pelaksanaannya. Dengan demikian, upaya memperluas akses makanan bergizi dapat berjalan seiring dengan perlindungan terhadap keselamatan penerima manfaat.

Ia menegaskan, evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo perlu memperhatikan tidak hanya cakupan program, tetapi juga mutu layanan, keamanan pangan, dan manfaat yang benar-benar diterima masyarakat.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Info DPR Andre Rosiade Program MBG Keamanan Pangan Pengawasan MBG