
Ilustrasi perang antara Amerika Serikat dengan Iran. Foto: openAI
JAKARTA - Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth, Sabtu (17/10) mengatakan Iran harus memilih antara meninggalkan ambisi nuklir dan mencapai kesepakatan atau menghadapi aksi militer yang menghancurkan.
“Iran akan segera harus membuat pilihan, apakah mereka akan meninggalkan ambisi tersebut di meja perundingan atau menghadapi kehancuran seperti yang dapat ditimbulkan Amerika dan akan dilakukan dengan cepat jika diperlukan,” kata Hegseth kepada para taruna Korps Pelatihan Perwira Cadangan (ROTC) dan calon anggota militer di Universitas Tennessee.
Ia menuduh Teheran membangun persenjataan rudal konvensional dalam jumlah besar untuk mencegah aksi militer terhadap negaranya, sambil tetap mengejar ambisi nuklir. Menurut Hegseth, kekuatan militer AS diperlukan untuk memaksa pihak-pihak yang dianggap sebagai lawan agar bersedia berunding.
Hegseth juga mengatakan bahwa Iran “mendanai kelompok proksi seperti Hizbullah dan mendanai kelompok proksi lainnya, Houthi di Yaman”. Ia menambahkan bahwa Washington telah berupaya mencegah serangan terhadap pasukan dan kapal-kapal AS.
Kepala Pentagon itu menggambarkan kebijakan AS terhadap Iran sebagai bagian dari upaya lebih luas Presiden AS Donald Trump untuk menegaskan kembali kekuatan Amerika. Upaya tersebut mencakup penindakan terhadap kartel narkoba serta pembatasan pengaruh Iran, China, dan Rusia di Amerika Latin.
Merujuk pada Venezuela, Hegseth mengatakan operasi AS di negara itu akan memiliki “dampak lintas generasi”. Ia menggambarkan Venezuela sebagai mitra strategis dan menyoroti sumber daya minyak negara tersebut.
Ia mengatakan Washington berupaya menyingkirkan pengaruh negara-negara pesaingnya dari Belahan Bumi Barat, sekaligus memperkuat kehadiran militer dan kemitraan AS di berbagai negara di kawasan benua Amerika.
Sumber: Anadolu